Mengenai Saya

Foto saya
Segala sebab akibat perihal rindu. Selamat membaca! Semoga bermanfaat :) sosial media: ig : https://www.instagram.com/sasmithaarofa/ See you soon!

Sabtu, 01 November 2025

Menjadi Orang Baik dalam Praduga Tak Bersalah.


Berkali kali aku ingin menulis lagi, menghidupkan Ayana dan semua hal yang abadi dalam dirinya. Tapi ingatan selalu membawaku pada satu waktu. Saat keberanian adalah satu-satunya tirakat yang kupunya. Ayana kala itu tak pernah membayangkan bahwa umur yang menua dan sebagian waktu yang sia-sia membawanya pada kehidupan yang sulit untuk dimengerti. Setiap aku ingin memulai lagi, sebuah diorama besar mencekat otakku. Menarikku untuk berhenti. Cukup sampai di sini, selelsaikan semuanya. Lalu kaleidoskop itu akan berputar, berulang kali, menyisakan getar tawa dan romansa masa muda. Ayana seperti berhenti di sana. Hampir satu dekade ia merangkak maju, tapi lagi dan lagi Ayana berhenti. Pada usia yang masih belia, kata-kata yang suci, juga tanggung jawab yang ternyata tak lebih banyak dari jumlah jari. Aku selalu kehilangan semua diksi juga cerita tentang dunia saat ini. Padahal jelas sekali aku ingin menyimpannya lewat aksara tapi semua kenangan menyeka kisah hari ini. Mengajakku pada diam lalu menari dan berpesta dalam kisah cinta yang penuh gelora. Tuangkan saja angkaknya dan mabukkan aku dalam cerita masa lalu.

            Hari ini aku ingin mengajak Ayana kembali, menyelami duniaku yang telah ia nantikan dulu. Ayana selalu bertanya bagaimana senangnya menjadi dewasa. Menyibak segala norma dan menjadi manusia. Ia menantikan waktu itu setiap hari. Tapi sayangnya, saat kedewasaaan merenggut hidupku, Ayana tak mau hadir lagi. Ia seperti tenggelam dalam kesenangan dan gelak tawa yang membahana. Kenapa aku di sini? Sedang apa aku kini? Ayana tak ingin dengar lagi. Ia seperti berkata ayo menari, berkelana lagi dalam dunia bawah tanah yang tak mengenal nestapa. Saat soal kimia adalah satu-satunya kesulitan yang harus dihadapi. Melewatkan pagi tanpa segelas kopi. Ayana pergi menyapa seluruh keceriaan dan berdialog layaknya orang dewasa. Tapi saat menjadi tua dan kedewasaan adalah sebuah tiang yang harus dipeluk erat, Ayana tak mau datang lagi. Ia ingin selamanya muda menjadi remaja.

            Aku ingin mengajak Ayana mencari tahu, alasan aku berada di sini. Menjadi orang biasa yang ternyata begitu kecil. Ayana harus tahu aku telah bertemu berbagai manusia yang membawa suka dan luka dibalik telapak tangannya. Aku telah sampai pada satu tempat yang tak pernah ada dalam daftar tujuan kita dulu. Aku singgah di sini dikerumuni orang-orang yang berjuang untuk sekedar menyesap cerutu atau mengecap sesendok madu. Ia juga harus tahu, bahwa aku masih bersamanya. Orang yang namanya selalu kugaungkan sejak sepuluh tahun lalu. Dalam otakku yang kini senyap, ada banyak langkah yang beradu di luar. Mereka entah menjemput apa. Saling berteriak dan menyaksikan pertikaian, tentang ego menjadi juara, juga perlombaan yang mereka ciptakan sendiri. Entah energi darimana yang membawaku pada tempat yang sungguh silau. Tak ada cahaya tapi menyilaukan mata. Ayana, kau harus tahu bahwa kedewasaan yang kuhadapi kini tak pernah ada dalam balada yang kita susun dulu. Elegi adalah makanan sehari-hari. Meski demikian aku tetap bahagia bersamanya. Kami, seperti kerdil sebab berusaha menjadi manusia biasa. Kenapa harus juara? Tanyaku setiap hari. Yang lain seperti berlari, entah apa yang sebenarnya dikejar.

            Ayana, aku ingin mengajakmu hadir lagi. Mari kita duduk bersama. Akan kuceritakan semua hal yang kau lewatkan sejak masa yang penuh cinta. Kita harus menyadari bahwa anemo masa remaja adalah cerita yang cukup jadi penenang. Kita telah sampai di sini. Pada kehidupan yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Aku tahu mencari sebab keberadaanku di sini adalah ketidakpastian yang tak punya jawaban. Aku percaya bahwa takdir yang menyeretku ke sini tak hanya untuk menyajikan kekecewaan. Meski saban hari aku harus terus bergelut dengan rasa tak percaya diri, tapi aku yakin satu hal bahwa keniscayaan yang membawaku sejauh ini bukan untuk menghadapkanku pada penyeselan pun kekecewaan. Aku belajar banyak hal, bahwa semua orang sedang bertahan hidup. Saat semesta mempertontonkan kesedihan, aku hanya perlu bertahan. Satu hari lagi dan semuanya akan terlewati lagi. Meski makin hari rasanya makin berat, tapi aku ada di sini bukan untuk berhenti. Saat aku merasa mengetahui segalanya, saat itu juga dunia seperti mengolok-olokku. Dibayar kontan. Bahwa ternyata aku begitu kecil diantara semua yang ada di sini. Meski langkahku tak sebesar yang lain, aku masih percaya bahwa langkah kecil nan sederhana ini semoga membawaku pada harapan-harapan yang kita rangkai bersama, dulu.

            Ayana, mungkin kau ingat dulu kita seringkali berbicara tentang cita-cita. Menyaksikan senja merekam semua keinginan yang tidak masuk akal itu. Ternyata kini, cita-cita makin jauh digapai. Dalam dunia dewasa, cita-cita adalah dongeng dan harapan palsu yang dikenalkan pada anak-anak. Tiupan kesegaran berisi tipuan agar mereka tetap ingin hidup. Mereka tak perlu menyaksikan kekejaman dan dunia yang pelit rasa suka. Sekarang, apakah cita-cita masih menjadi sebuah kemungkinan? Di sini, menjadi orang baik adalah dosa yang harus kau sembunyikan. Setiap insan berusaha masuk dalam kejahatan itu agar bisa bertahan, hidup. Tapi, Ayana kita tak perlu lebih jauh berkisah pasal itu. Tak baik untuk dibicarakan lebih lanjut. Malam ini aku hanya ingin mengajakmu kembali. Supaya kita bisa bersenang-senang lagi. Menarik semua diksi yang melengang pergi. Sebab bersama lantunan aksara yang kita rangkai bersama, ada secercah bahagia yang kembali merekah. Semoga kau berkenan, ya? Mengusik sembilu dalam hatiku. Bersamamu lagi adalah satu cara agar aku bisa bertemu diriku kembali.

x