Mengenai Saya

Foto saya
Segala sebab akibat perihal rindu. Selamat membaca! Semoga bermanfaat :) sosial media: ig : https://www.instagram.com/sasmithaarofa/ See you soon!

Sabtu, 01 November 2025

Menjadi Orang Baik dalam Praduga Tak Bersalah.


Berkali kali aku ingin menulis lagi, menghidupkan Ayana dan semua hal yang abadi dalam dirinya. Tapi ingatan selalu membawaku pada satu waktu. Saat keberanian adalah satu-satunya tirakat yang kupunya. Ayana kala itu tak pernah membayangkan bahwa umur yang menua dan sebagian waktu yang sia-sia membawanya pada kehidupan yang sulit untuk dimengerti. Setiap aku ingin memulai lagi, sebuah diorama besar mencekat otakku. Menarikku untuk berhenti. Cukup sampai di sini, selelsaikan semuanya. Lalu kaleidoskop itu akan berputar, berulang kali, menyisakan getar tawa dan romansa masa muda. Ayana seperti berhenti di sana. Hampir satu dekade ia merangkak maju, tapi lagi dan lagi Ayana berhenti. Pada usia yang masih belia, kata-kata yang suci, juga tanggung jawab yang ternyata tak lebih banyak dari jumlah jari. Aku selalu kehilangan semua diksi juga cerita tentang dunia saat ini. Padahal jelas sekali aku ingin menyimpannya lewat aksara tapi semua kenangan menyeka kisah hari ini. Mengajakku pada diam lalu menari dan berpesta dalam kisah cinta yang penuh gelora. Tuangkan saja angkaknya dan mabukkan aku dalam cerita masa lalu.

            Hari ini aku ingin mengajak Ayana kembali, menyelami duniaku yang telah ia nantikan dulu. Ayana selalu bertanya bagaimana senangnya menjadi dewasa. Menyibak segala norma dan menjadi manusia. Ia menantikan waktu itu setiap hari. Tapi sayangnya, saat kedewasaaan merenggut hidupku, Ayana tak mau hadir lagi. Ia seperti tenggelam dalam kesenangan dan gelak tawa yang membahana. Kenapa aku di sini? Sedang apa aku kini? Ayana tak ingin dengar lagi. Ia seperti berkata ayo menari, berkelana lagi dalam dunia bawah tanah yang tak mengenal nestapa. Saat soal kimia adalah satu-satunya kesulitan yang harus dihadapi. Melewatkan pagi tanpa segelas kopi. Ayana pergi menyapa seluruh keceriaan dan berdialog layaknya orang dewasa. Tapi saat menjadi tua dan kedewasaan adalah sebuah tiang yang harus dipeluk erat, Ayana tak mau datang lagi. Ia ingin selamanya muda menjadi remaja.

            Aku ingin mengajak Ayana mencari tahu, alasan aku berada di sini. Menjadi orang biasa yang ternyata begitu kecil. Ayana harus tahu aku telah bertemu berbagai manusia yang membawa suka dan luka dibalik telapak tangannya. Aku telah sampai pada satu tempat yang tak pernah ada dalam daftar tujuan kita dulu. Aku singgah di sini dikerumuni orang-orang yang berjuang untuk sekedar menyesap cerutu atau mengecap sesendok madu. Ia juga harus tahu, bahwa aku masih bersamanya. Orang yang namanya selalu kugaungkan sejak sepuluh tahun lalu. Dalam otakku yang kini senyap, ada banyak langkah yang beradu di luar. Mereka entah menjemput apa. Saling berteriak dan menyaksikan pertikaian, tentang ego menjadi juara, juga perlombaan yang mereka ciptakan sendiri. Entah energi darimana yang membawaku pada tempat yang sungguh silau. Tak ada cahaya tapi menyilaukan mata. Ayana, kau harus tahu bahwa kedewasaan yang kuhadapi kini tak pernah ada dalam balada yang kita susun dulu. Elegi adalah makanan sehari-hari. Meski demikian aku tetap bahagia bersamanya. Kami, seperti kerdil sebab berusaha menjadi manusia biasa. Kenapa harus juara? Tanyaku setiap hari. Yang lain seperti berlari, entah apa yang sebenarnya dikejar.

            Ayana, aku ingin mengajakmu hadir lagi. Mari kita duduk bersama. Akan kuceritakan semua hal yang kau lewatkan sejak masa yang penuh cinta. Kita harus menyadari bahwa anemo masa remaja adalah cerita yang cukup jadi penenang. Kita telah sampai di sini. Pada kehidupan yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Aku tahu mencari sebab keberadaanku di sini adalah ketidakpastian yang tak punya jawaban. Aku percaya bahwa takdir yang menyeretku ke sini tak hanya untuk menyajikan kekecewaan. Meski saban hari aku harus terus bergelut dengan rasa tak percaya diri, tapi aku yakin satu hal bahwa keniscayaan yang membawaku sejauh ini bukan untuk menghadapkanku pada penyeselan pun kekecewaan. Aku belajar banyak hal, bahwa semua orang sedang bertahan hidup. Saat semesta mempertontonkan kesedihan, aku hanya perlu bertahan. Satu hari lagi dan semuanya akan terlewati lagi. Meski makin hari rasanya makin berat, tapi aku ada di sini bukan untuk berhenti. Saat aku merasa mengetahui segalanya, saat itu juga dunia seperti mengolok-olokku. Dibayar kontan. Bahwa ternyata aku begitu kecil diantara semua yang ada di sini. Meski langkahku tak sebesar yang lain, aku masih percaya bahwa langkah kecil nan sederhana ini semoga membawaku pada harapan-harapan yang kita rangkai bersama, dulu.

            Ayana, mungkin kau ingat dulu kita seringkali berbicara tentang cita-cita. Menyaksikan senja merekam semua keinginan yang tidak masuk akal itu. Ternyata kini, cita-cita makin jauh digapai. Dalam dunia dewasa, cita-cita adalah dongeng dan harapan palsu yang dikenalkan pada anak-anak. Tiupan kesegaran berisi tipuan agar mereka tetap ingin hidup. Mereka tak perlu menyaksikan kekejaman dan dunia yang pelit rasa suka. Sekarang, apakah cita-cita masih menjadi sebuah kemungkinan? Di sini, menjadi orang baik adalah dosa yang harus kau sembunyikan. Setiap insan berusaha masuk dalam kejahatan itu agar bisa bertahan, hidup. Tapi, Ayana kita tak perlu lebih jauh berkisah pasal itu. Tak baik untuk dibicarakan lebih lanjut. Malam ini aku hanya ingin mengajakmu kembali. Supaya kita bisa bersenang-senang lagi. Menarik semua diksi yang melengang pergi. Sebab bersama lantunan aksara yang kita rangkai bersama, ada secercah bahagia yang kembali merekah. Semoga kau berkenan, ya? Mengusik sembilu dalam hatiku. Bersamamu lagi adalah satu cara agar aku bisa bertemu diriku kembali.

x

Minggu, 11 Februari 2024

Asbabun Nuzul Nayanika

 Sejak SMA kami (saya dan suami) memang suka sekali merangkai nama anak, agaknya terlalu visioner ya. Yakin aja dulu berjodoh hehe. Sebenarnya ya buat seru-seruan aja sih. Tapi selalu berubah-ubah. Tergantung apa yang sedang kita baca atau sedang tren saat itu, kalau sekarang mah istilahnya tergantung fyp hahaha. Kadang bahasa arab, bahasa jawa, nama karakter wayang, tokoh-tokoh mahabarata, bahasa itali, inggris, segala macem deh. Sampai kita punya 4 pasang nama yang panjang, semua kata pingin masuk hehehe. Kayaknya kalau bisa, nama anakku kubuat 20 kata deh (maruk banget ya wak)


Ketika menikah, makin semangatlah kita mencari nama anak walaupun ya belum nampak juga itu tanda-tanda punya anaknya kapan. Gas aja terus cari nama. Sebab menurut kami, nama anak ini krusial. Kami ingin dia (anak kami) bangga dengan namanya selayaknya kami bangga dengan nama pemberian orang tua kami. Dua tahun pernikahan akhirnya yang dinanti tiba. Di awal kehamilan sudah siap ini nama anak kami meski belum tahu jenis kelaminnya apa. Jadi ketika nanti dia lahir entah laki-laki atau perempuan tinggal tulis saja nama yang sudah kami patenkan, hehehe


Sampai akhirnya di tengah-tengah kehamilan yang mulai tenang, suami tiba-tiba berubah pikiran. “Yang, nama anak kita full bahasa indonesia aja. Pake ejaan yang baik dan benar supaya mengurangi risiko salah tulis dan dia juga ga kesulitan nulis namanya” celetuk suami tiba-tiba. Bagaimana responku? Mendengar alasannya tentu aku sangat setuju. Mengingat, seringkali aku emosi karena orang yang salah menuliskan namaku atau nama suamiku padahal nama kami juga ya tidak terlalu sulit penulisannya. “Yaaa boleeehh, tapi kamu ya yang cari” begitu aku menanggapinya.

Sudah cukup aku saban hari pusing, tiap pagi mual muntah masih disuruh juga memusingkan nama anak yang sebelumnya sudah paten. Aku hanya menitipkan nama panggilannya tidak boleh berubah. Tetap “AYA”. Supaya dia tidak kesulitan menyebutkan namanya sejak kecil, juga mudah menuliskan namanya sendiri ketika ia mulai belajar membaca atau menulis. 

Sejak hari itu, pagi siang malam kerjaan suamiku hanya cari nama anak. Susahnya lagi harus mencari dua nama, sebab belum tahu jenis kelamin anak kami karena umur kehamilan yang masih cukup muda.


Hingga entah dimana ia ditemukan, disepakatilah nama “Nayanika”. Apakah masalah sudah usai? Belum. Karena kami sepakat harus ada akronim nama kami berdua, maka harus dicari kata berbahasa indonesia yang bisa menaungi nama kami berdua jika disingkat. Pusinglah terus suamiku tiap hari, tapi dia senang saja. Hingga muncul nama AKSARA. Dipilih karena ia bisa digunakan untuk anak laki-laki atau perempuan. Banyak memang syaratnya untuk nama anak kami ini, kami jugalah yang bikin syarat-syarat itu sendiri. Menciptakan kesulitan itu sendiri, tapi ya kami senang saja begitu.


Sudah dapat dua nama, untuk anak laki-laki dan perempuan. Tapi perjalanan belum usai. Ketika akhirnya dari beberapa kali usg hasilnya tetap perempuan, kami mulai fokus mencari nama tengah. Ngga sih, cuma suamiku yang cari. Aku hanya bagian setuju atau tidaknya aja, hehe. Nama tengah ini menjadi sangat sulit karena harus mewakili syarat-syarat nama yang belum terpenuhi. Ribet emang ya pasangan satu ini, menyulitkan hidupnya sendiri. Karena adek hpl-nya di bulan ramadhan jadi nama tengah ini harus mengandung unsur bulan ramadhan. Kebetulan juga sama dengan bulan lahir baba (suami saya) yaitu ramadhan dan sama dengan bulan lahir saya yaitu bulan April. Tadinya ingin juga mengandung unsur ke-april-an tapi kok makin ribet, jadi yasudah minimal unsur ramadhan ini bisa masuk.


Sebelumnya kami sudah sepakat dengan kata “Shauma” berasal dari kata “shaum” dalam bahasa arab yang artinya puasa. Tentunya nama itu sudah tidak bisa dipilih lagi karena bukan bahasa indonesia. Nama akhir suami adalah ramadhan, semua mbah-mbah dan saudara mengira pasti namanya “ramadhani” begitu. Tapi, apakah suami saya mau? Tentu tidak. Apalagi sudah bertekad menggunakan bahasa indonesia, jelas kata ramadhan/ramadhani tak lagi menjadi pilihan. Setiap hari suami makin rajin mencari nama tengah ini. Mencari nama lain atau julukan untuk bulan ramadhan tapi juga tak kunjung ditemukan. Saya lupa tepatnya kapan, tapi yang jelas nama tengah ini ditemukan di hari-hari menjelang lahiran.


Seminggu setelah adek aya lahir, kami umumkan nama lengkapnya. Bagaimana respon orang-orang sekitar? 

“Kok ga ambil dari alquran?” “Kok ga pake bahasa arab?” “Kok gaada ramadhaninya?” “Jangan dipanggil aya, naya aja, panggil kasih aja” dan lain-lain. Ya maklum, keluarga saya kalau anak laki-laki minimal namanya harus ada unsur muhammadnya. Kalau perempuan ya minimal pake nama surat di al-quran begitu. Faktanya kami ambil nama tengah itu dari al-quran tapi pakai bahasa indonesia. Kenapa panggilannya aya? Ya terserah saya dong yang bikin nama. Haha ngga gitu dong jawabnya, supaya gampang aja dia menyebut namanya sejak kecil dan ya sekarang pun aya sudah bisa menyebut namanya sendiri dengan jelas. Tapi banyak juga kok respon positif. Kelamaan orang-orangpun terbiasa dengan nama lengkap adek aya. Sebenarnya kami pun tak terpaku pada respon orang lain. Sebab kami sudah cukup bangga dengan nama yang kami sepakati ini. Nama yang penuh doa di dalamnya.


Sepertinya ini sudah terlalu jauh ya. Kalau dibaca ulang sudah tidak sesuai judul juga. Jadi dimana nayanika ditemukan? Darimana asal katanya? Aku pun tidak tahu. Suamiku kalau ditanya juga sepertinya sudah lupa. Karena penemuan nayanika ini tiba-tiba aja begitu. Dari banyak nama yang dia ajukan kemudian kami berusaha padu padankan, nayanika yang jadi pemenangnya. Setiap nama pasti baik dengan bahasa apapun itu. Selalu ada doa dan harapan orang tua dan keluarga di balik sebuah nama. Pasti ada histori panjang dari sebuah nama. Semoga nama ini membawa kebaikan bagi hidup aya. Aamiin.

Kamis, 19 Maret 2020

"Self Healing" di tengah Pandemi


Dua ribu duapuluhku dimulai dengan menyelesaikan penelitian sedangkan teman-teman sudah berangkat ke lokasi praktek kerja lapang. Melanjutkan penelitian sambil gelisah dan penuh pertanyaan kapan aku dan 8 teman lainnya akan diberangkatkan. Masih awal dua ribu duapuluh juga, akhir bulan pertama akhirnya kami dikejutkan dengan kabar keberangkatan yang hanya berjarak satu minggu dengan hari pertama praktek kerja lapang. Semua serba mendadak. Abi terus menekankan untuk tetap tenang tidak gegabah dan berpikiran positif. Sungguh perkara berpikir positif ini adalah hal rumit yang harus kujalani. Hambatan dan rintangan terus berdatangan. Akhirnya dengan semua persiapan yang serba mendadak itu kami berangkat.
Sebulan pertama di tanah rantau semua berjalan sesuai rencana, kegiatan praktek kerja di Rumah Sakit Umum Pusat Jawa Tengah ini teramat menyenangkan. Ada banyak sekali ilmu yang aku dapat, tak terkira. Kami banyak dipertemukan dengan orang-orang baik, diberi kemudahan dalam kesulitan, kesempatan dalam kesempitan, semuanya masih bisa teratasi. Hingga akhirnya, pandemi masuk ke Indonesia. Sebagai rumah sakit rujukan kami sudah terbiasa mendengar pasien suspect ada di sini, kami juga masih bersinggungan dengan pasien, mengunjungi ruangan-ruangan isolasi, tidak ada kekhawatiran dalam bertugas, bukankah sudah menjadi tugas kami belajar menjadi garda terdepan, siap tidak diliburkan saat keadaan genting seperti ini. Semua tempat tutup, kecuali Rumah Sakit.
Tapi rupanya tak semua hal sesuai dengan apa yang kita harapkan. Abi masih selalu mengingatkan untuk berpikiran positif. Keadaan mulai memburuk, angka pasien positif terus meningkat. Satu pasien positif di rumah sakit ini untuk kemudian tiga hari berikutnya satu pasien meninggal karena virus yang mendunia ini. Aku masih mencoba terus menanamkan kata-kata abi di pikiranku. Berusaha tetap tenang, tidak panik, tidak gegabah, berusaha baik-baik saja di situasi yang sama sekali jauh dari kata baik.
“kalau semua hal sesuai dengan yang kita rencanakan, mungkin kita lupa caranya meminta dan memohon kepada-Nya, mbak”
Sekolah diliburkan, kerja dilakukan dari rumah, jalan-jalan sepi, semua hal berubah cepat. Termasuk praktek kami yang harus ditunda sebab terlalu berisiko bagi kami untuk tetap berada di rumah sakit.
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang kurasa saat ini, bahkan untuk menuliskan ini aku kesulitan memulainya. Tapi menulis adalah self-healing. Imunitas harus tetap terjaga. Jangan stress, jangan panik!
Senin 16 Maret 2020 menjadi briefing pagi paling menyedihkan selama kami praktek lapang di sana. Dipulangkan atau harus bertahan di sana masih belum bisa dipastikan. Jika memang harus dipulangkan sulit bagi kami untuk menerimanya sebab perjalanan praktek lapang masih panjang, banyak kompetensi yang belum tercapai, sedih harus berpisah lebih cepat dengan orang-orang baik di rumah sakit ini. Pembimbing yang sabar dan tegas, tidak menghakimi jika kami salah, tidak pelit ilmu, dan banyak kebaikan lainnya. Mengikuti himbauan presiden, praktek kami diliburkan 2 minggu dan kami diminta untuk tetap berada di rumah indekost sesuai anjuran #dirumahaja. 
Keputusan akhirnya kami diliburkan dan keputusan buruk yang kami ambil adalah kami pulang ke rumah. Sebuah keputusan yang cukup berani menurutku sebab bertahan 2 minggu di kota terjangkit juga cukup mengerikan. Kami harus menyiapkan stok makanan dan berdiam diri di tempat tinggal sampai pandemi dinyatakan mereda. Pulang ke rumah juga bukan keputusan terbaik. Nyatanya, setelah sampai di rumah kami harus mengisolasi diri dan mengurangi kontak dengan siapapun termasuk itu orang-orang tersayang.
Sampai di rumah aku mandi dan mencuci semua barang yang kubawa dan kupakai.  Tidak ada salam-salaman, ciuman, pelukan, tak ada semua. Aku terus menjaga jarak dengan orang-orang di rumah. Pulang ke rumah kali ini sungguh menyedihkan. Tapi di rumah aku bisa mendapat makanan sehat yang lebih baik, mendapat asupan sayur dan buah lebih mudah, melihat kedua orang tuaku lebih dekat, walaupun kami harus berjarak entah sampai kapan.
Kami juga belum tahu bisakah kami kembali ke kota rantau sesuai waktu yang ditentukan. Bagaimana selanjutnya kegiatan praktek lapang kami. Kegelisahan terus menyelimuti. Bangun dengan rasa cemas, menunggu kabar baik, dan semua kemungkinan yang harus kami hadapi kedepannya. Semoga pandemi ini memberi pelajaran bagi kita semua. Terus cari sisi positifnya, selalu ada! Bukankah Allah tidak akan memberikan cobaan pada suatu kaum melebihi kemampuan kaumnya? Jadi, tetap semangat. Bahu membahu, gotong royong! Yuk rajin cuci tangan, makan makanan bergizi, dan olahraga. Semoga pandemi segera berakhir dan bumi kembali sehat. Barangkali pandemi ini adalah peringatan bagi kita supaya lebih mawas diri.

Jumat, 01 Februari 2019

DISLEKSIA MASA LALU (Yang Tak Tersirat Biarlah Tesurat)

21.30 cukup malam bagi mahasiswi yang mencoba realistis, nampak memaksa diri merapikan jam tidurnya. Tidak ada yang salah malam ini, selain sepi yang sesekali menengok. Mengintip malu dari balik tirai, mencari rinai keramaian–barangkali di jalan depan sana. Sayangnya hujan yang menderas 3 jam terakhir menyisakan gerimis dan rasa enggan sehingga jalanan lengang. Hanya sesekali, satu dua deru motor terdengar, dan kentongan tukang nasi goreng keliling “tok.. tok...” pilu memanggil perut kelaparan. Sembari menemani sepi, aku memilih menjamah mesin tik ini. Ada selayar kata yang perlu diutarakan. Sebab apa-apa yang dipendam dalam tubuh perlu diekskresikan secukupnya. Tidak melulu keringat, kebohongan sepesing urin, ego sekeras feses konstipasi, barangkali cukup ringan, hanya sebuah kata-kata. Sebentuk kecil dalam tubuh kita agaknya perlu seimbang, macam sekecil biji sawi bila berlebihan dan dipendam berkepanjangan bukanlah sebuah kabar baik, pun dengan kata-kata.

Malam ini kutebak beberapa awan menyelipkan bintang, ia tidak terdistorsi seutuhnya hingga menyerupai kegelapan. Aku menuliskan ini dengan perasaan papah dan kelapangan dada untuk mengalah dari yang lalu. Beberapa tahun terakhir, barang terhitung tujuh, aku mengalami ritme kehidupan yang semarak, rima yang beragam, bait yang penuh tipografi. Cacian, pujian, keramaian, kesepian, tawa, tangis, kebahagiaan dan hal yang selalu tak pernah kusiapkan ialah kehilangan. Sekuat apapun aku menata diri dan hati, kehilangan adalah momentum menyakitkan dalam hidupku. Sejak aku memahami makanan tanpa micin adalah enak, parahnya dengan micin lebih enak, pikiranku terus terbuka–berkembang biak dengan pasti. 

Sesekali aku menerka, mungkin hidup bukan sekedar anabolisme-katabolisme, sebatas membangun-menghancurkan, meninggalkan-ditinggalkan, melupakan-dilupakan, terlalu sederhana. Lebih rumit dari itu, hidup adalah pasal pemaknaan dan penerimaan.

Aku tidak pernah menyalahkan siapapun atas kesedihan-kesedihan yang kualami. Perihal airmata yang jatuh beruntun itu kuikhlaskan kepergiannya, sekali lagi apa yang ada di dalam tubuh kita perlu diekskresikan. Kubiarkan ia menetes, meluruhkan dendam dan amarah. Sebab aku hidup tidak belajar menjadi manusia egosentris, melainkan belajar berbagi dan membuka diri. Termasuk membuka diri padamu. Bisa dikatakan itu adalah kali pertama aku berani – meyakinkan diriku, hatiku, dan apa yang ada di aku untuk kau beri hak milik, apakah berlebihan? Mungkin iya. Kala itu aku masih terlalu kanak, bukan hanya usia tapi juga perasaan yang diutarakan tanpa pematangan. Untuk kemudian yang kutemukan adalah kau yang disastria dihadapanku, pun aku demikian. Aku memahami apapun yang terjadi dalam jeda-jeda nafasku, termasuk kamu adalah ingatan kuat dalam girusku. Setelah masa itu aku menjadi anafilaksis terhadap sepi-sepi yang berserakan, untuk itu bersamamu di masa lalu perlu kiranya dalam hidupku. Tidak melulu soal cinta-cintaan, tapi ayolah – mungkin ini jawaban bagi pertanyaan, apakah kesepian perlu digembirakan? Iya, hatiku butuh genggaman.

Sekarang, di tempatku duduk, pikiranku masuk lebih dalam ke lorong masa lalu. Melihat kembali satu persatu kepingan kisah. Untuk menjadi pembelajaran, evaluasi diri hingga mampu menarik kesimpulan. Selepas denganmu, atau mungkin tidak benar-benar lepas. Sebab faktanya aku masih denganmu di senin-sabtu, bahkan minggu untuk sekitar satu-dua tahun setelahnya. Aku mensyukuri sekecil apapun yang terjadi, pertemuan denganmu, dengan temanku dan temanmu, dengan kehidupanmu, termasuk menjadi pilihanmu – kala itu. Pikiranku masuk kembali lebih jauh, aku masih ingat meskipun masih kanak tapi aku cukup dewasa untuk memilih apa yang aku butuhkan dalam hidupku. Usiaku masih terlalu dini untuk memahami penerimaan maka yang lahir adalah sebuah tuntutan, yang aku butuhkan darimu lebih dari yang sekedar kau berikan. Tapi saat itu aku belum tahu cara untuk mengungkapkan. Aku telah merelakan diri membuka hati tapi semakin beranjak tak pernah kutemukan bahwa kau sedang memberi hati. Maka aku butuh penyelesaian, sebab kurasa perasaan ini tidak perlu lagi berkepanjangan. Aku memilih untuk menyelesaikannya. Kita adalah dua insan yang amat berbeda. Pikiran kita, kurasa tak bisa lagi dilebur hingga disefalus barangkali. Menurutku, kita (atau entah hanya aku yang berfikir demikian) yang berawal dari persahabatan perlu diakhiri dengan persahabatan pula, tidak perlu masuk lebih jauh. Sebab akhirnya aku tahu, apa yang aku butuhkan bagi diriku.

Sebuah keputusan yang terlalu dini juga menurutku. Ternyata perasaan yang diutarakan tanpa pematangan itu tak pernah benar-benar masak hingga beberapa bulan setelahnya. Maka aku tahu, bukan kamu tempat untuk mematangkannya. Bagiku, kau adalah misteri. Aku tidak mengenalimu dengan baik, banyak sekali hal yang tidak aku tahu. Padahal aku telah membuka diri, siap kau tempati kala itu. Tapi mungkin, kita tak pernah tahu cara yang benar untuk mengungkapkan. Untuk itu aku memahami, dari gerak-gerikmu – aku tidak kau inginkan untuk tahu segalanya tentangmu. Sederet kalimat yang membuang waktumu ini hanyalah sudut pandangku, apa yang aku lihat dari sisiku. Tentangmu, tidak ada sisi lain yang bisa kumasuki untuk bisa memahamimu. Setelah kata-kata pecundang dan caraku pergi yang sangat tidak bertanggung jawab itu, kau seolah menutup diri. Tidak memberiku akses untuk sekedar bilang terimakasih atau maaf barangkali. Aku tahu, jika aku telah memilih pergi maka yang kau lakukan menutup jalanku untuk masuk ke duniamu lagi. Mungkin ini lancang. Bisa saja, kau sudah menutup rapat lembaran di kala itu. Tidak ingin mengingatnya sekalipun. Tapi sebelum aku tidak lagi bisa sekedar mengucapkan “hai” padamu, maka aku rasa teramat perlu mengutarakan ini.

Jika ini bagimu berlebihan, tapi bagiku sangat tidak. Sebab kamu, memberiku banyak pelajaran, perihal penerimaan dan mengungkapkan. Aku menjadi hati-hati meletakkan hati. Tidak semua yang telah bersamaku adalah keseriusan. Ada yang sekedar euforia, memalsukan sepi. Jika mungkin aku telah mematahkan hati maka kemudian yang kudapat adalah hatiku yang dipatahkan. Setimpal. Sudah kurasakan manis pahit mencintai, diawali dari membuka diri padamu. Pasal hati mungkin bagimu membuang waktu, tapi sekali lagi aku tahu apa yang aku butuhkan.  Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih atas banyak pelajaran yang kau berikan.  Aku punya banyak indikasi untuk tetap menjadi temanmu, kan? Selamat melanjutkan hidupmu, semoga kamu tidak pernah mengutuk masa itu, haha. 

Melepasmu bukanlah penyesalan, yang aku sesali hanyalah caraku pergi. Maaf untuk yang sudah terjadi. Coba buka hati lebih lebar lagi, dengarkan perasaan yang riuh di sekitarmu. Di sana ada yang menunggumu, tapi bukan aku. Semoga segera kau temukan.


Malam makin larut, jariku belum ingin berhenti menari. Kulihat foto berbingkai di sebelahku. Kemudian kusunggingkan senyum. Pikiranku selesai masuk ke lorong-lorong. Sekarang ia sedang berjalan di koridor menuju pintu keluar. Aku telah selesai mengambil pelajaran, sekarang sedang kususun untuk menjadi kekuatan bagi kehidupan. Tiap hela nafasku perlu diisi dengan dengung-dengung syukur dan penerimaan. Dalam hidup, manusia datang dan pergi bergantian, tapi tidak ada yang kebetulan. Dipertemukan denganmu menjadi rima yang hangat, mengesankan. Nanti, saat rambutku mulai beruban, akan kuceritakan kepada anakku perihal siapa-siapa yang dulu hadir, termasuk dirimu.

Aku sudah tahu caranya memaknai dan menerima segala yang sudah kualami. Kedatangan dan kehilangan. Belajar mengikhlaskan saban hari. Hidup masih cukup rumit untuk dimaknai, aku akan terus menumbuhkan girus di otakku, menjadi pemikir.


Selamat malam. 

Jumat, 02 Februari 2018

Hari-hari Setelah Perpisahan

4 tahun 7 bulan setelah kita berpisah

Pagi itu aku sedang menggendong anak pertamaku yang baru saja berumur seminggu. Matanya sayu seperti mata ayahnya. Ayahnya mengambil bagian 70% di wajah anakku, sisanya adalah bagianku. Menurutku ia tampan–bukan karena ia anakku, tapi kurasa ia mewarisi ketampanan Ayahnya hampir seratus persen. Sejak aku tahu bahwa akan punya anak lelaki, aku selalu berdoa ia menjadi lelaki yang bertanggung jawab dengan apa yang diucapkannya. Ayahnya ingin dia jadi jagoan, menolong orang banyak. Bagiku itu berlebihan, cukup tidak menyakiti orang lain saja, terutama kedua orangtuanya sendiri.

Setiap hari kubacakan ia ayat-ayat suci. Kuberi nasihat dan kalimat-kalimat baik. Agar ia pandai bersikap baik kepada orang lain. Tujuh hari lalu ia keluar dari tubuhku dengan ejanan terkuat yang bisa kubuat. Ia telah melewati labirin gelap melihat cahaya dan ayah ibunya. Menanggalkan segala kenyamanan lelap di rahimku untuk kemudian menikmati kerasnya dunia. Hiruk pikuk manusia yang sibuk melukai. Ia menangis kencang pun demikian denganku. Aku hampir kehabisan tenaga tapi tangisannya menguatkanku, seperti aspirin. Kemudian ia adalah candu bagi hidupku, setelah suamiku. Kala itu, telah kudeklarasikan diriku lepas dari patah hati terhebat. Lepas dari semua kenangan tentangmu yang beriak sesekali di ingatanku.

3 tahun 3 bulan  setelah kita berpisah
                
Dengan mantap ia menjabat tangan ayahku. Kata “Sah” beriringan terucap. Aku telah mengambil langkah baru untuk melenyapkan kenangan tentangmu. Setahun belakangan ia berusaha merajut hatiku kembali, meyakinkan orang tuaku. Hingga kemudian aku berkata bahwa hatiku siap untuk ia tempati. Suamiku sudah bekerja, ia kuliah dengan sungguh-sungguh tidak sepertimu. Aku dengar dari Nanda – sahabatku, kau baru menyelesaikan studimu setahun setelah aku wisuda, bukankah dulu kau pernah berjanji akan wisuda bersama? Haha rupanya kau menikmati hari-hari tanpa tekanan dariku. Bukankah kau senang hidup tanpa celotehku lagi?

2 tahun 50 hari setelah kita berpisah

Malam itu dua orang menarik paksa laptopku ketika aku berjalan sendirian menuju kampus.  Sebenarnya tanpa paksaan, karena gerakan mereka cukup lembut dan sangat cepat. Hanya dalam waktu 5 detik laptopku raib, kemudian di detik keenam kudapati kakiku gemetar.  Aku terduduk lemas, beberapa orang yang menyadari hal itu berteriak dan mengejar dua orang jahat itu. Tapi lari mereka terlalu cepat untuk dikejar, orang-orang itu kembali dengan tangan kosong dan tatapan iba. Aku masih tidak berkata apapun ketika orang-orang disekelilingku menepuki pundakku dan memberi  ucapan bela sungkawa. Sebagian dari mereka adalah teman kuliahku, dibantunya aku berdiri dan ditemani kembali ke rumah kost. Aku masih saja gemetar dan tidak mengucapkan apapun. Setelah setengah jam dalam kebisuan, Nanda – sahabatku memeluk tubuhku dan selanjutnya aku tenggelam di pelukannya, aku menangis sejadinya. Kembaliku berduka. Aku kehilangan lagi.

Dua minggu setelah kehilangan laptop, Nanda menemaniku membeli laptop baru. Beruntung selama bekerja aku pandai menyimpan uang, tabunganku cukup. Selepas itu aku menyadari, mungkin laptop yang hilang adalah cara Tuhan membantuku melupamu. Setiap shubuh aku berdoa diberi cara terbaik untuk lepas dari belenggu tentangmu, dan ini jawabannya. Dua orang itu tak hanya membawa lari laptopku tapi beserta kenangan tentangmu di dalamnya. Tidak ada lagi kesempatan bagiku melihat sisa kebahagiaan kita. Sudah lenyap semuanya. Kenangan yang tersisa hanya yang bersembunyi di girus-girus otakku, atau pada hatiku dengan penggal-penggal cintamu akibat kau patahkan.

1 tahun 1 hari setelah kita berpisah
           
Aku wisuda. Kalimatmu kala itu benar,  lambat laun aku akan terbiasa tanpamu. Kamu benar, tanpamu aku akan tetap bisa menyelesaikan studiku. Meski hati-hati yang patah itu masih kugenggam erat. Kuganti air mata akibat kehilanganmu itu dengan kesuksesan satu persatu. Aku belajar lebih keras dari apapun sebab suatu hari kau harus menyesali keputusanmu pergi dariku. Aku tidak lagi mendengar kabarmu, sekalipun tidak. Aku berusaha tak acuh, menutup semua akses menujumu, tidak satupun. 

Tidak ada luka yang sehat, ia tetap melahirkan sekat. Termasuk egoku yang tinggi untuk melupamu sama sekali. Kamu harus tahu aku sedang berusaha keras menyembuhkan lukaku. 366 hari aku menata hati. Menyiapkan jalan untuk kepergianmu.

150 hari setelah kita berpisah

Mama masih sering menanyakanmu ketika meneleponku yang kemudian menyiramkan hujan-hujan di hati. Aku kembali berduka atas kepergianmu. Barangkali kau tahu aku adalah gadis yang cukup berani pergi kemanapun sendirian, tapi aku tidak cukup kuat kehilanganmu.  Semua pertanyaan Mama tentangmu kujawab dengan kebohongan. Betapa pengecutnya aku!  Tepat 150 hari setelah kehilanganmu, Mama meneleponku. Seperti biasa menceritakan kenakalan adik dan tingkah nenek yang marah-marah di depan televisi, tidak terima dengan jalan cerita sinetron kesayangannya. Mungkin Nenek punya bakat terpendam menjadi sutradara, karena kisah apapun yang ia tonton selalu kurang sesuai baginya. Ia punya jalan cerita sendiri – yang menurutnya lebih pantas diangkat menjadi sinetron. Oiya, Mama juga bercerita tentang  menu barunya di restoran yang ternyata disukai banyak orang. Aku berhasil meyakinkan Mama setelah 10 kali mencoba menu barunya di rumah. Bahasan terakhir kami adalah pertanyaan Mama tentangmu, aku menarik napas panjang. Membiarkan hujan-hujan itu memasuki rongga paruku. Merasakan diorama jantungku tak beraturan. Sudah saatnya aku menyelesaikan kebohonganku. “Ma, aku sudah putus.” Akhirnya setelah aku terdiam cukup lama di telepon. “Iya, Mama sudah tahu.” itu saja jawabannya, kemudian Ia mengakhiri percakapan kami.

30 hari setelah kita berpisah

Aku masih sangat ingat bagaimana Nanda dengan mata merah merobek semua fotomu – foto kita di dinding. Kala itu aku hampir kehabisan tenaga karena menangis seharian, Nanda masuk kamarku mendapatiku dengan rambut acak-acakan dan mata sembab sisa menangis seharian. Tanpa izin apapun ia menghancurkan semua tentang kita dengan harapan kenangan yang tergantung di sana ikut robek dan hancur. Aku hanya diam memeluk guling menyaksikan Nanda beringas.

“ Ayo buka mulut, makan! Mau berapa lama kamu seperti ini? Laki-laki macam dia itu tidak perlu ditangisi. Masa depan tidak jelas, tidak berpenghasilan, tidak serius kuliah, mau jadi apa kamu kalau dengan dia! ” Nanda terus saja berbicara dan aku masih diam tak mengindahkan usahanya.

“ Ayo makan! Sudah bagus dia itu meninggalkan kamu. Sudah diberi perempuan baik begini masih ditinggalkan. Tidak mau mensyukuri hidup. “
Lelah memaksaku makan, Nanda mencari usaha lain. Ia ambil boneka di sampingku, boneka itu juga menyimpan kenangan. Dilemparnya boneka itu ke luar. Entah ke mana jatuhnya, tak dipedulikannya. Belakangan ini ku tahu boneka itu dipungut tetangga rumah kostku dulu untuk kado anaknya yang berulang tahun – atas pengakuannya beberapa hari lalu ketika aku berkunjung ke sana bersama suamiku.

7 hari setelah kita berpisah

Aku bangun dengan mata sembab. Air mataku kering. Teman-temanku terus berbela sungkawa atas hatiku. Kurasai usaha mereka membuatku tersenyum. Tapi hatiku masih terpatah-patah, aku berjuang keras menata serpihannya.  Masih tidak bisa aku menerima alasanmu untuk pergi. Dari semua pertengkaran kita yang tak berujung, pergi bukanlah satu solusi terbaik. Bagaimana mungkin kamu berhenti mencinta seketika, hanya dalam waktu beberapa detik saja? Kemudian kamu memilih menghentikan semuanya. Menyelesaikan kita. Menyakiti aku. Aku selalu siap menjadikanmu yang terakhir, tapi rupanya kamu masih butuh yang selain aku. Kala itu kau menyalahkan jarak dan keadaan yang tidak bersahabat, tapi aku sepenuhnya menaruh kesalahan itu padamu atas selesainya kita. Aku telah sepakat dengan hatiku bahwa yang paling bersalah atas patah hati terhebat ini adalah kamu. Kalau saja kamu lebih kuat merindu, kalau saja kamu masih mencintaiku, kalau saja gadis itu tidak memalingkanmu dariku, kalau saja kamu memercayai isi hatimu yang butuh aku, kalau saja kamu tidak egois, kalau saja.

Sayangnya segala kalau dan andaiku hanyalah aku yang ingin, pada akhirnya kamu tidak pernah benar-benar menginginkanku.

******************************************************************

Aku-Amelia. Bukan Milea. Aku tidak melewati perpisahan dramatis dengan Dilanku. Milea-Dilan berpisah kemudian tetap saling menginginkan–walau tidak bisa. Tapi aku, Amelia berpisah karena telah tidak diinginkan, mari kita garisbawahi tidak diinginkan. Setelah tidak denganmu aku melewati hari patah hati terhebat. Meski demikian caramu pergi itu tidak cukup menyelesaikan hidupku. Aku terus berderma dengan perasaanku agar tetap bungah. Ada waktu tiga tahun lebih untuk berislah dengan kepahitan. Aku menikah, tapi kamu tidak. Setelah lepas dari hubungan kita yang katamu mengikat itu, kudengar kau beberapa kali berganti pasangan. Mereka benar, kau belum cukup dewasa untuk tetap denganku. 


Aku selalu belajar banyak hal darimu kecuali tentang kehilangan. Kamu menguatkanku termasuk kepergianmu. Sekalipun aku tidak pernah siap untuk patah hati ini, tapi tak kubiarkan hatiku membusuk dalam kesedihan. Kini, aku telah selesai dari lara yang kau bangun untukku. Bagaimana harimu tanpa aku? Semoga bahagia seperti yang kau mau dulu. 

Kita telah rembas–habis sama sekali. 

Sabtu, 07 Oktober 2017

Kuliah di Kampus Biasa (Review Kuliah di Jember)

Assalamualaikum, pembaca! Tulisan ini berisi review dari saya setelah satu tahun kuliah di Jember, kuliah di kampus yang biasa saja (bukan kampus idaman). Perlu diingat ya semua tulisan ini berisi opini saya, apa yang saya rasakan, sudut pandang saya. Jadi, bila ada yang kurang setuju atau tidak sependapat bisa disampaikan. Karena semuanya di sini berasal dari pendapat dan pengalaman saya. Selamat membaca J

Asal Mula Kuliah di Jember

Soal ini pernah saya bahas di tulisan saya sebelumnya, bisa di scroll down. Oh iya, bagi yang belum tahu saya adalah mahasiswi D-IV Gizi Klinik Politeknik Negeri Jember. Dulunya, Jember bukan tujuan utama saya dalam memilih kuliah. Terlebih politeknik, sama sekali tidak ada bayangan pendidikan vokasi itu bagaimana. Karena saya dari SMA bukan SMK jelas tidak pernah kepikiran mau melanjutkan ke pendidikan vokasi. Semua hanya sebatas coba-coba dan ajakan teman. Seperti anak SMA yang lain yang pasti punya mimpi yang tinggi. Kuliah di kampus idaman, kampus besar, diimpikan banyak orang. Jember mungkin hanya jadi salah satu pilihan atau bahkan pilihan terakhir. Tapi saya? Tidak mendapatkan kampus impian saya, yang berhasil saya dapatkan hanya jurusan yang saya inginkan di kampus yang sama sekali tidak masuk daftar keinginan saya. Ini yang saya syukuri, kuliah di jurusan yang sesuai dengan keinginan saya. Setiap hari ada hal-hal baru yang membuat saya semakin nyaman ada di sini.

Ketika saya berkunjung ke kampus-kampus di Malang atau Surabaya, saya baru sadar ternyata kampus saya itu kecil. Gedungnya tidak terlalu banyak, yang luas itu sawah dan kandangnya. Kantinnya saja hanya satu, di kampus lain tiap fakultas ada kantinnya kalau di Polije se-poltek itu kantinnya hanya satu dan itu selalu ramai karena memang tidak sebanding dengan jumlah mahasiswanya. Tapi tidak apa, saya syukuri. Setidaknya kalau gabut bisa keliling kampus, ke sawah, ke kebun, atau yang paling menyenangkan adalah melihat sapi di kandangnya.

Beda Politeknik dengan Universitas

Sebelum kuliah saya selalu mencari info tentang kehidupan kampus, dari kakak kelas, dari tetangga, saudara, membaca di media, dari banyak sumber. Semuanya adalah tentang kehidupan kampus di Universitas. Sayangnya, saya tidak di sana. Setelah melewati masa PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru) saya dihadapkan dengan kehidupan berbeda dengan apa yang saya bayangkan. Pendidikan vokasi lebih keras dari ekspetasi saya. Gambaran umumnya nih ya buat yang tidak kuliah di Politeknik, bedanya itu seperti SMA dan SMK tapi lebih kompleks. Di politeknik kita dibekali skill atau kemampuan karena outputnya adalah mahasiswa yang siap kerja. Nah untuk mengasah skill ini tentunya ada banyak praktek yang mendukung, namanya aja kan Poltek jadi ya pol praktek. Kita bisa saja seharian praktek. Kuliah dari jam 07.00-20.00. Masih ditambah laporan dan tugas-tugas lainnya, belum lagi yang sibuk dengan organisasi. Jadwal kuliahpun ditentukan oleh lembaga, kita tidak bisa mengatur jadwal kuliah kita sendiri. Semuanya sudah diatur.

Ketika masuk kuliah bayangan saya adalah tidak berseragam seperti mahasiswa pada umumnya. Kuliah dengan style yang disukai, rambut gondrong, kaos oblong, celana jeans, dan ya yang semacam itu lah. Tapi di politeknik tidak! Saya masih harus berseragam dari senin hingga jumat (hanya di jurusan kesehatan, di jurusan lain seragam hanya di hari-hari tertentu). Rambut tidak boleh gondrong, mahasiswanya masih rapi-rapi semua. Semuanya diluar ekspetasi saya. Tapi, tetap saya nikmati, saya syukuri. Ada untungnya kan  berseragam, tidak bingung pilih baju kalau mau berangkat kuliah.

Lingkungan dan Kultur di Jember

Mayoritas masyarakat Jember berbahasa madura dan saya tidak bisa berbahasa madura. Mahasiswa di sini beragam, tapi  masih banyak yang dari kota terdekat seperti Lumajang, Probolinggo, Bondowoso, dan Situbondo yang mayoritas berbahasa madura. Setahun di sini logat lumajang saya jadi agak tergeser. Biasanya yang paling sering terdengar itu kalimat-kalimat begini, “Boh, yaapa pas”, “Jek kamu gitu gel-megelin”, “Cek lamanya rawes”, “Mara yang baik mad”, dan lain-lain yang menurut saya itu lucu.

Cuaca dan suhu di Jember tidak beda jauh dengan Lumajang walaupun lebih panas, ini memudahkan saya untuk beradaptasi. Nah, satu hal lagi yang saya syukuri, Allah memang tahu apa yang hamba-Nya butuhkan, bukan yang diinginkan. Karena tubuh saya agak manja ya, tidak bisa tinggal di suhu yang terlalu dingin atau terlalu panas Jember menjadi tempat yang sesuai. Malang itu terlalu dingin bagi saya, Surabaya itu terlalu panas. Beberapa teman saya mungkin paham bagaimana reaksi tubuh saya ketika suhu lingkungan sedang ekstrim atau tidak mendukung. Kalau makanannya di Jember masih tergolong murah, saya jadi tidak perlu berpikir sangat keras untuk berhemat karena memang uang pas-pasan. Tapi cukup, kebutuhan saya tercukupi di sini. Coba kalau saya di kota lain yang lebih besar, yang makanannya lebih mahal apalagi cafe-cafe dan fastfood mudah ditemui saya pasti harus berpikir lebih keras untuk berhemat.

Betah Atau Tidak di Jember?

Semester lalu saya masih sering pulang, setiap minggu selalu pulang ke Lumajang jadi saya dianggap tidak betah di Jember. Padahal statement itu salah besar. Saya pulang bukan karena tidak betah, tapi memang ada kesempatan untuk pulang. Kalau semester ini yang lebih berat saya jadi agak sulit pulang ya tidak pulang. Lumajang-Jember bisa ditempuh dalam 1,5 jam, pun saya biasa pulang sendiri jadi kegiatan pulang kampung lebih fleksibel dan mudah dilakukan. Saya selalu memanfaatkan kesempatan pulang itu dengan baik walaupun kadang hanya sehari. Karena orang tua saya bukan tipe orang yang selalu chat atau telfon anaknya. Jarang sekali tanya “sudah makan apa belum”, “sudah bangun belum”, “sedang apa”, bahkan kadang seminggu tidak telfon sama sekali. Bukan mereka tidak peduli, tapi saya yakin orang tua saya selalu memikirkan anaknya dan selalu mendoakan. Ibu saya ikatan batinnya sangat kuat, setiap saya sangat lelah atau sedang sumpek-sumpeknya saya hanya bilang “Ya Allah saya kangen umi” tidak lama setelah itu pasti ditelfon oleh umi atau abi. Karena itu sesibuk apapun saya pasti menyempatkan pulang walaupun harus pulang membawa tugas, setidaknya tidak membuat orang tua saya khawatir. Nah, ini yang saya syukuri. Kuliah di Jember tidak jauh dari rumah, saya mudah untuk pulang, mudah untuk memastikan orang tua saya baik-baik saja secara langsung.  

Hikmah Kuliah di Jember

Lalu hikmahnya apa kuliah di kampus yang biasa saja? Saya kuliah di jurusan yang menyenangkan. Jurusan yang mengajarkan banyak hal menakjubkan. Hal-hal yang harus disyukuri setiap hari. Seperti yang sudah saya tuliskan di atas. Banyak kemudahan yang saya temui selama kuliah. Di semester awal itu seperti semester penuh perjuangan, survival banget gitu. Tapi karena akses untuk pulang itu mudah semuanya bisa diatasi. Apalagi selama di sini banyak yang sayang saya, saya punya teman-teman dan saudara yang sangat peduli. Saya tidak pernah merasa sendirian, banyak orang-orang yang membantu dan memudahkan.

Kampus saya memang tidak besar, tapi saya senang ditempatkan di sini. Kalau ditanya “kuliah dimana?” sekarang saya sudah sangat ikhlas dan bangga menjawab “Di Jember”, walaupun pertanyaan selanjutnya selalu “Oh, di Unej ya?”, saya tetap ikhlas menjawab “Bukan, di poltek.”, dan coba tebak pertanyaan selanjutnya apa? “Oh, D3 ya?”, saya masih ikhlas saja menjawab “Bukan, D4”. Kesannya itu seperti begini loh “Oalah cuma kuliah di poltek, mau jadi apa nantinya”. Politeknik masih dianggap sebelah mata, padahal kalau saya boleh besar hati sedikit nih, di Politeknik kita dibekali skill yang tidak diberikan di Universitas. Kuliah kita lebih berat dan lebih melelahkan, silahkan kalau mau bilang “Itu kan karena kamu kuliah di poltek jadi dibangga-banggain”. Itu yang saya rasakan, itu yang saya lihat. Kita disiapkan menjadi mahasiswa yang siap kerja. Dulu waktu PKKMB kita diberi semangat dengan lagu ini, “Siapa bilang diploma itu beda, diploma sama dengan sarjana. Yang bilang diploma itu beda, hanya orang yang tak pernah kuliah.” Lagu itu sangat bermakna bagi saya, benar-benar bisa jadi penyemangat. Yang bisa paham makna dari lagu itu ya yang kuliah di Politeknik. Diploma memang sama dengan sarjana, bahkan menurut saya lebih berat prosesnya.

Ketiga, saya tidak sedikitpun menyesal ada di sini. Saya sudah ikhlas tidak diterima di kampus yang besar. Karena tolak ukur kesuksesan tidak dilihat dimana ia belajar tapi bagaimana ia belajar. Untuk yang sudah terlanjur kuliah di kampus yang biasa saja, coba deh diubah sudut pandangnya. Dibuang penyesalannya atau rasa marah karena tidak diterima di kampus yang besar. Ini salah satu motivasi saya untuk tetap berusaha keras, “Kampus besar itu hanya salah satu jalan, bukan satu-satunya jalan”. Kalau statement saya ini salah silahkan dibenarkan. Untuk adik-adik yang mau kuliah, jangan pesimis. Kalian harus tetap punya mimpi besar. Kuliah dimanapun sesuai dengan apa yang kalian impikan, tapi ingat disesuaikan dengan apa yang kalian butuhkan. Untuk teman-teman yang sudah kuliah sekarang bukan saatnya “Kenapa kok saya ga lolos di sana, kenapa saya harus kuliah di sini?” tapi diubah jadi “Bagaimana saya harus nyaman dan sukses dari sini”.


Semua tulisan ini berasal dari pemikirian saya, dari apa yang saya rasakan. Mungkin ada beberapa yang sependapat. Kalau tidak sependapat, silahkan disanggah karena memang opini tiap orang itu berbeda. Semoga sudut pandang saya ini bisa memberi manfaat. Mari sama-sama kita belajar, menyikapi takdir dengan positif dan rasa syukur. Semoga kita semua bisa sukses dengan jalan kita masing-masing. 

Senin, 21 Agustus 2017

PARAU #3

Rinduku terus bermetamorfosa
Menganyam kisah sedih
Dari puing kenangan
Di tubuhku
Sisa pelukanmu kala itu


Pagi ini aku tidak menemukan Sri di pasar. Biasanya ia nampak lalu lalang di dalam pasar. Hilir mudik mengangkat karung-karung beras di warung Abah di ujung pasar, atau sekedar membantu ibu-ibu yang keberatan membawa belanjaan. Ia lakukan apa saja, asal ada yang bisa ia bantu pasti dengan cekatan Sri bertindak. Sri tak butuh uang banyak, asal bisa mengisi perutnya itu sudah cukup. Sebab yang ia butuhkan saat ini, hanyalah Tong. Harta berharga paling akhir dalam hidupnya. Sri sudah miskin, sejak Tong pergi maka jelas makin miskin jiwa raganya. Kurasa Sri adalah pemilik definisi kesedihan paling hakiki, tapi rupanya tidak sebab ia selalu punya senyum saban pagi, setiap hari, meski batinnya merintih. Semenjak Tong menghilang, fisik Sri menjadi lebih kuat walaupun kehilangan terus menginjak-injak batinnya.

Pukul 09.00 pasar hampir sepi, tinggal beberapa kios sembako yang  masih terlihat melayani pembeli. Pemilik Kios sayur, buah, dan ikan sudah bersiap meninggalkan pasar. Dagangan mereka hampir habis, kalaupun ada beberapa sayuran nampak tidak segar karena hampir siang. Kecuali warung nasi di pasar bagian depan, masih ramai sampai menjelang ashar. Tapi Sri belum juga menampakkan batang hidungnya. Mungkinkah Sri sakit? Massa rindu yang ia tampung mungkin terlalu berat. Tapi bukankah fisik Sri sangat kuat? Pun ia tak pernah telat makan barang sehari saja. Seberat apapun pilu yang ia tanggung masih mampu ia mengangkut beras puluhan karung. Bu Balok, pemilik warung nasi juga bertanya-tanya  mengapa Sri belum juga datang ke warungnya, biasanya Sri tak pernah terlambat sarapan dan makan siang.

Hampir pukul 10 kulihat Sri dari kejauhan, membawa beberapa kertas sambil mengusap peluh di dahinya. Matanya terlihat sembab, masih ada bekas kesedihan di sana. Kuhampiri Sri, ia nampak sangat kelelahan. Aku hendak bertanya namun urung kulakukan sebab kurasa Sri sedang teramat sedih, bukan waktunya untuk bertanya macam-macam. “Sudah makan?” hanya itu yang harus kutanyakan kepadanya saat ini, ia menggeleng. Kubantu Sri berjalan, ketika sampai di depan warung aku hendak berteriak memesankan makanan untuk Sri. Tapi rupanya Bu Balok sudah mengetahui kedatangan Sri yang tanpa disuruh langsung mengambil piring dan menyiapkan menu sarapan untuk Sri. Setelah sarapan Sri mengusap keringat di dahinya, sambal Bu Balok terlalu pedas tapi cocok untuk membangkitkan semangat. “Nikmat”, katanya. Rupanya Sri sudah lebih baik setelah makan. Bu Balok menghampiri kami yang duduk di dalam, tidak jauh dari tempatnya memasak. Bu Balok yang sangat baik hati memperbolehkan kami makan di dalam, tidak berdesakan dengan pembeli lain di bagian depan, “supaya makannya lebih leluasa”, katanya kepada kami sebulan lalu. Aku dan Sri adalah pembeli tetap Bu Balok setiap sarapan maka dari itu beliau memberi kami keistimewaan.

Warung sudah agak sepi, setengah jam lagi waktunya makan siang dan Bu Balok akan kembali kuwalahan melayani pembeli. Sesekali aku dan Sri membantu jika sedang tidak ada pekerjaan. “Kau dari mana saja, Sri?”, tanya Bu Balok tiba-tiba. Sri menghela napas, aku menanti jawabannya. “Ini, menempelkan selebaran di tiang-tiang kesedihan,” katanya “barangkali ada yang baru saja dari kota kemudian tidak sengaja bertemu Tong”. Aku menarik napas panjang, sedih mendengar kalimat Sri. Ia masih saja keras hati, berusaha mencari suaminya. Ternyata benar, Sri adalah definisi kesedihan yang hakiki. “Kok sampai siang begini?”, Bu Balok bertanya lagi. “Iya, kutempelkan sampai ke ujung kampung seberang. Semua orang harus tahu, kalau aku sangat kehilangan Tong”. Aku hampir menangis melihat Sri, tapi tidak mungkin kulakukan itu. Aku hanya diam menyaksikan kesedihan di balik wajah Sri.

Kemudian Sri bercerita, terlihat jelas bahwa ia berusaha menyembunyikan air mata. Katanya, semalam ia memimpikan Tong lagi. Ini sudah kali kesekian mimpi itu datang. Tapi Sri senang, sebab ia bisa bertemu dengan kekasihnya itu walau hanya sebatas mimpi. Dua bulan sejak Tong pergi, Sri tidur sendirian. Setiap hari sepulang dari pasar ia bersihkan rumahnya dari kenangan-kenangan bersama Tong. Sore harinya ia pergi ke laut, menghanyutkan surat yang ternyata tidak pernah sampai ke tengah laut. Pagi tadi Sri memutuskan menempelkan selebaran itu setelah sebulan lalu dibuatnya. Ditempelkannya pelan-pelan bersamaan dengan kenangan tentang Tong yang terus berlarian di kepalanya. Kesedihan terus mengiringinya sampai ujung kampung sebrang. Sri kembali ke kampungnya dengan tertatih-tatih. Disaksikan oleh orang-orang yang ikut bersedih tapi tidak tahu harus melakukan apa untuk membantunya. Tong benar-benar pergi tanpa satu pesan apapun. Tidak ada seorangpun yang menangkap basah kepergiannya. Jejaknya tidak sekalipun ditemui oleh seluruh warga kampung. Kepala kampung sesekali mendatangi rumah Sri, untuk memastikan kesehatan Sri sekaligus menanyakan perkembangan kabar Tong. Namun Sri selalu menyambutnya dengan isak tangis. Jika sudah begitu tidak ada yang bisa dilakukan oleh kepala kampung, selain pulang dan membiarkan Sri menikmati kesendiriannya. Di akhir ceritanya, Sri menangis. Ditumpahkannya segala kesedihan yang selama ini ia pendam. Bu Balok ikut menangis sambil mengaduk teh hangat untuk Sri. Suasana warung itu berubah menjadi mendung.

Sudah dua bulan Sri kehilangan, selama itu pula Sri berusaha menutup kesedihan. Tapi Sri tetaplah wanita berperasaan. Ia tetap keberatan jika harus menanggung rindu yang massanya tiap hari bertambah. Kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun bersama Tong hilang begitu saja. Hidupnya kemudian berantakan, hatinya tersiksa, pikirannya carut marut tapi ia tetap tegar. Besok jika Tong belum juga datang dihadapan Sri, ia akan tetap sedih. Dan Sri akan kembali mengulang rutinitasnya. Menyulam senyum setiap pagi, bekerja keras hingga bercucuran keringat di pasar, petangnya ia kirimkan sajak-sajak kerinduan kepada Tong yang ia hanyutkan di lautan, sayangnya ia tidak pernah tahu bahwa sajak itu tidak pernah sampai. Sajak itu hanya berenang di bibir pantai yang kemudian dipungut Amron dengan bulir air mata. Sri tidak pernah sadar, diam-diam ada yang menginginkannya. Entah berapa lama kisah sedih ini  terus berulang.