Berkali
kali aku ingin menulis lagi, menghidupkan Ayana dan semua hal yang abadi dalam
dirinya. Tapi ingatan selalu membawaku pada satu waktu. Saat keberanian adalah
satu-satunya tirakat yang kupunya. Ayana kala itu tak pernah membayangkan bahwa
umur yang menua dan sebagian waktu yang sia-sia membawanya pada kehidupan yang
sulit untuk dimengerti. Setiap aku ingin memulai lagi, sebuah diorama besar
mencekat otakku. Menarikku untuk berhenti. Cukup sampai di sini, selelsaikan
semuanya. Lalu kaleidoskop itu akan berputar, berulang kali, menyisakan getar
tawa dan romansa masa muda. Ayana seperti berhenti di sana. Hampir satu dekade
ia merangkak maju, tapi lagi dan lagi Ayana berhenti. Pada usia yang masih
belia, kata-kata yang suci, juga tanggung jawab yang ternyata tak lebih banyak
dari jumlah jari. Aku selalu kehilangan semua diksi juga cerita tentang dunia
saat ini. Padahal jelas sekali aku ingin menyimpannya lewat aksara tapi semua
kenangan menyeka kisah hari ini. Mengajakku pada diam lalu menari dan berpesta
dalam kisah cinta yang penuh gelora. Tuangkan saja angkaknya dan mabukkan aku
dalam cerita masa lalu.
Hari ini aku ingin mengajak Ayana
kembali, menyelami duniaku yang telah ia nantikan dulu. Ayana selalu bertanya
bagaimana senangnya menjadi dewasa. Menyibak segala norma dan menjadi manusia.
Ia menantikan waktu itu setiap hari. Tapi sayangnya, saat kedewasaaan merenggut
hidupku, Ayana tak mau hadir lagi. Ia seperti tenggelam dalam kesenangan dan
gelak tawa yang membahana. Kenapa aku di sini? Sedang apa aku kini? Ayana tak
ingin dengar lagi. Ia seperti berkata ayo menari, berkelana lagi dalam dunia bawah
tanah yang tak mengenal nestapa. Saat soal kimia adalah satu-satunya kesulitan
yang harus dihadapi. Melewatkan pagi tanpa segelas kopi. Ayana pergi menyapa
seluruh keceriaan dan berdialog layaknya orang dewasa. Tapi saat menjadi tua
dan kedewasaan adalah sebuah tiang yang harus dipeluk erat, Ayana tak mau
datang lagi. Ia ingin selamanya muda menjadi remaja.
Aku ingin mengajak Ayana mencari
tahu, alasan aku berada di sini. Menjadi orang biasa yang ternyata begitu
kecil. Ayana harus tahu aku telah bertemu berbagai manusia yang membawa suka
dan luka dibalik telapak tangannya. Aku telah sampai pada satu tempat yang tak
pernah ada dalam daftar tujuan kita dulu. Aku singgah di sini dikerumuni
orang-orang yang berjuang untuk sekedar menyesap cerutu atau mengecap sesendok
madu. Ia juga harus tahu, bahwa aku masih bersamanya. Orang yang namanya selalu
kugaungkan sejak sepuluh tahun lalu. Dalam otakku yang kini senyap, ada banyak
langkah yang beradu di luar. Mereka entah menjemput apa. Saling berteriak dan
menyaksikan pertikaian, tentang ego menjadi juara, juga perlombaan yang mereka
ciptakan sendiri. Entah energi darimana yang membawaku pada tempat yang sungguh
silau. Tak ada cahaya tapi menyilaukan mata. Ayana, kau harus tahu bahwa
kedewasaan yang kuhadapi kini tak pernah ada dalam balada yang kita susun dulu.
Elegi adalah makanan sehari-hari. Meski demikian aku tetap bahagia bersamanya.
Kami, seperti kerdil sebab berusaha menjadi manusia biasa. Kenapa harus juara?
Tanyaku setiap hari. Yang lain seperti berlari, entah apa yang sebenarnya
dikejar.
Ayana, aku ingin mengajakmu hadir
lagi. Mari kita duduk bersama. Akan kuceritakan semua hal yang kau lewatkan
sejak masa yang penuh cinta. Kita harus menyadari bahwa anemo masa remaja
adalah cerita yang cukup jadi penenang. Kita telah sampai di sini. Pada
kehidupan yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Aku tahu mencari sebab
keberadaanku di sini adalah ketidakpastian yang tak punya jawaban. Aku percaya
bahwa takdir yang menyeretku ke sini tak hanya untuk menyajikan kekecewaan.
Meski saban hari aku harus terus bergelut dengan rasa tak percaya diri, tapi
aku yakin satu hal bahwa keniscayaan yang membawaku sejauh ini bukan untuk
menghadapkanku pada penyeselan pun kekecewaan. Aku belajar banyak hal, bahwa
semua orang sedang bertahan hidup. Saat semesta mempertontonkan kesedihan, aku
hanya perlu bertahan. Satu hari lagi dan semuanya akan terlewati lagi. Meski makin
hari rasanya makin berat, tapi aku ada di sini bukan untuk berhenti. Saat aku
merasa mengetahui segalanya, saat itu juga dunia seperti mengolok-olokku. Dibayar
kontan. Bahwa ternyata aku begitu kecil diantara semua yang ada di sini. Meski langkahku
tak sebesar yang lain, aku masih percaya bahwa langkah kecil nan sederhana ini
semoga membawaku pada harapan-harapan yang kita rangkai bersama, dulu.
Ayana, mungkin kau ingat dulu kita
seringkali berbicara tentang cita-cita. Menyaksikan senja merekam semua
keinginan yang tidak masuk akal itu. Ternyata kini, cita-cita makin jauh
digapai. Dalam dunia dewasa, cita-cita adalah dongeng dan harapan palsu yang
dikenalkan pada anak-anak. Tiupan kesegaran berisi tipuan agar mereka tetap
ingin hidup. Mereka tak perlu menyaksikan kekejaman dan dunia yang pelit rasa
suka. Sekarang, apakah cita-cita masih menjadi sebuah kemungkinan? Di sini,
menjadi orang baik adalah dosa yang harus kau sembunyikan. Setiap insan
berusaha masuk dalam kejahatan itu agar bisa bertahan, hidup. Tapi, Ayana kita
tak perlu lebih jauh berkisah pasal itu. Tak baik untuk dibicarakan lebih
lanjut. Malam ini aku hanya ingin mengajakmu kembali. Supaya kita bisa
bersenang-senang lagi. Menarik semua diksi yang melengang pergi. Sebab bersama
lantunan aksara yang kita rangkai bersama, ada secercah bahagia yang kembali
merekah. Semoga kau berkenan, ya? Mengusik sembilu dalam hatiku. Bersamamu lagi
adalah satu cara agar aku bisa bertemu diriku kembali.
x
