Mengenai Saya

Foto saya
Segala sebab akibat perihal rindu. Selamat membaca! Semoga bermanfaat :) sosial media: ig : https://www.instagram.com/sasmithaarofa/ See you soon!

Sabtu, 17 Januari 2015

Sepaket Senja

Masih pada senja yang sama, aku menatapi sisa-sisa jingga sore itu. Semua dekat, terasa dekat. Masih dengan manusia-manusia yang sama. Bahagia? Tentu. Aku masuk dalam kehidupan mereka atau mereka yang memasuki kehidupanku tak pernah penting itu dicari penyebabnya. Senja masih sama, dengan wajahnya yang elok dan semburat-semburat keceriaan. Aromanya masih pekat kurasa. Seperti tahun-tahun sebelumnya, cintaku pada senja tak pernah berubah meski manusianya tak lagi sama. Senja masih menawarkan sejuta kebahagiaan. Menghapus luka dan kerinduan. Siapa yang tak bahagia, bercumbu dengan senja diselingi tawa orang-orang yang menghadirkan kebahagiaan. Aku mencintai senja, aku mencintai mereka. Secawan senja sore itu kupeluk dingin bersama manusia terkasih. Begitulah senja ia tak pernah berubah, menawan. Sore itu kutitipkan rindu pada senja, kuselipkan cinta pada senja. Kusiapkan secawan untuk seseorang terkasih, hingga nantinya ketika senja kembali merekah kan kupetik, kami hirup bersama pada kebahagiaan baru yang tak dinyana sebelumnya.

Senja selalu setia, pada sore itu senja tahu bagaimana bersikap menebarkan keindahannya dalam bahagia yang semakin sempurna. Aku percaya, Allah selalu menyiapkan senja terindah untuk manusia-manusia yang tak lupa jalan bersyukur. Jika terluka, hadapi saja karena kebahagiaan pasti akan hadir setelahnya. Hidup selalu menawarkan sepaket senja, di dalamnya ada suka dan duka. Semuanya berjalan beriringan. Ketika cakrawala mulai menebar biduk senja, berlabuhlah. Semua akan bermuara pada titik bahagia. Yakin saja bahagia itu ada waktunya.
Hingga kehidupan mulai senja dan beranjak malam, lalu semuanya gelap dan usai sepaket senja akan masih jadi warna utama. Kusiapkan secawan senja dipetik dari salah satu sisi paket senja, untukmu. Agar nantinya akan kita hirup aroma senja yang sama pada kehidupan yang semakin menua. Kularutkan rindu dalam cawan senja yang diambil dari sisi paket senja, untukmu. Supaya kelak mata kita menatap senja yang sama dibawah langit yang jingga. Untukmu, kupersembahkan sepaket senjaku.


Senja, 14 Januari 2015.

Mereka masih jadi ladang bahagiaku.  

Aliva Medy C. P, Sasmitha Arofa M, Renjana Dyahpastika A (dari kiri ke kanan)



Selamat Ulang Tahun Aldik Wahyu Ramadhan




Saya dan teman-teman Passmasa, meski ini bukan dunia saya tapi mereka membuat saya bahagia

Kamis, 20 November 2014

Hai!

Entah untuk kali keberapa saya biarkan blog ini kesepian. Terakhir saya memposting sesuatu tidak begitu penting lebih dari sebulan yang lalu, waktu yang cukup lama. Ini terjadi karena satu hal, diawali dengan bermulanya sekolah saya tercinta terpaksa ikut-ikutan menggeluti kurikulum 2013. Sebagai rakyat yang baik, ya ikuti sajalah apa maunya pemerintah. Menjadi bagian dari angkatan kelinci percobaan dunia pendidikan memang tidak mudah. Menghadapi perubahan-perubahan metode pendidikan yang begitu mendadak membuat saya merasa benar-benar diforsir habis-habisan. Sejak masuk tahun ajaran baru kegiatan saya tak jauh berbeda dengan penganut paham K13 lainnya. Jam di sekolah lebih lama, tugas yang harus diselesaikan baik sendiri maupun kelompok, tambahan belajar, persiapan ulangan, persiapan presentasi, dan lain sebagainya. Bicara tentang tugas, sebentar lagi anda akan membaca hasil produksi cerpen saya berhubungan dengan tugas Bahasa Indonesia. Tidak terlalu bagus, dikerjakan saat mata benar lelah, dengan sedikit inspirasi jadilah sebuah cerita acak-acakan yang semoga anda bisa menemukan maknanya secara tersirat. Entah sengaja atau tidak cerita ini ditulis dengan alur yang membingungkan. Sudahlah, silahkan dibaca dan tinggalkan komentar disana. Dengan lapang dada saya menerima segala kritikan dan masukan. Selamat membaca :)

SERUPA HUJAN
Petang ini hujan ke sepuluh pada bulan sendu milik Arina. Aroma air tanah memunculkan rindu, desir anginnya menggembara kenangan. Inilah hujan ke sepuluh pada kalender merah jambu Arina, tak jemu ia memandang tiap tetes air yang turun beriringan, seirama membentuk sebuah simfoni aus kehidupan. Hujan di bulan sendu selalu jadi lanskap utama yang ia tatap dari balik jendela. Malam hari, hujan makin pilu. Membawa tetes-tetes kenangan yang turun menuju tanah kerinduan. Masih dan selalu Arina memandang hujan dari balik jendela. Baginya tiap tetes itu adalah pesan yang tertinggal, pesan yang sama dengan irama yang memilukan. Jika hujan telah reda barulah air matanya hadir perlahan, keluar dari pelupuk mata kepiluan, membasahi sebuah senyum bimbang yang tampak sangat menyakitkan. Baginya hujan adalah syair-syair kenangan yang selalu membuatnya tetap bertahan meski sampai berselimutkan kafan, lalu dunianya hanyalah kegelapan. Baginya hujan adalah air kepiluan yang selalu datang dengan tarian indah, tubuh molek hujan berayun membawa semerbak wangi kenangan menghembuskan bebauan sendu yang makin tajam. Dan Arina masih dengan hujan ke sepuluhnya, pada bulan sendu dan tahun-tahun penantian yang tak terhitung jumlahnya. Arina, umurnya menua tapi baginya penantiannya akan tetap muda.
****
Kalau engkau mencariku siang hari selain hari libur, cari saja di sebuah gedung berlantai dua bagian utara dari sebuah Universitas di ujung Jalan Pemuda. Atau jika kau perlu denganku saat sore hari, kunjungi saja taman kota atau sepanjang Jalan Basuki Rachmat, dan jika senja tiba kau akan temukan aku di pantai, duduk berselimut pasir putih, berkejaran dengan ombak, dan tertawa dengan nyiur kelapa. Kalau kau menemukan sesuatu bertuliskan Arina Amalia, tolong kembalikan padaku sebab aku adalah gadis pelupa yang tak jarang kehilangan barang. Entahlah, sejak kapan virus pelupa ini menyerangku, mengganggu hidupku dan mengharuskanku untuk berkawan dengan sebuah buku catatan kecil yang isinya adalah segala sesuatu yang harus kuingat. Dari hal penting sampai hal remeh temeh sekalipun. Jika suatu ketika kau menemukanku sedang bersama pria tinggi, yang berjalan tegap dengan penuh wibawa, matanya sendu dengan hidung yang lebih mancung dari milikku, rambutnya hitam, tetap terlihat rapi meskipun tak pernah disisir, biasanya dengan kaos lengan pendek yang terlihat sangat nyaman, sesekali ia menggunakan kemeja jika harus bertemu dengan dosennya yang cerewet dan suka sekali mengomentari penampilan orang lain, maka bisa dipastikan aku sedang berjalan dengan Seno. Seorang pria yang menjadi tempat kapalku berlabuh. Sebentar lagi, ia akan resmi jadi suamiku. Sebentar lagi, setelah aku menyelesaikan skripsiku dan pulang dengan memboyong gelar sarjana. Seno sedang menempuh pendidikan S2, dan setelah cinta kami sudah terikat tali pernikahan, ia akan membawaku tinggal bersamanya, maka selangkah lagi bahagiaku akan semakin sempurna.
****
Kalender menunjukkan desembernya dan langit mencurahkan hujannya. Setiap pulang kuliah aku harus loncat sana sini menghindari kubangan air. Menyebalkan memang, tapi aku suka hujan. Aku suka rintiknya yang menciptapkan irama seperti sebuah parade dari alam. Nyanyian hujan selalu merdu, tak pernah membosankan untuk di dengar. Suasana akhir tahun masih sangat menyenangkan. Sore ini, Seno telah menungguku di taman kota. Semoga hujan datang  membawa senandung tawa, agar kami berdua bisa menari dibawah hujan dan tertawa lepas menghanyutkan kerinduan setelah secawu tak berjumpa. Maklum sajalah, aku dan Seno menempuh pendidikan di kota yang berbeda. Hal yang paling kusuka saat bersama Seno adalah menikmati hujan atau bercumbu dengan senja. Saat itulah rindu seolah-olah hanyut dibawa tetesan hujan. Jam dinding besar di depan gedung utara tepat menunjukkan pukul empat sore. Kuayunkan kaki menuju taman kota, dengan riang kulewati kubangan-kubangan sisa air hujan. Sisa hujan menciptakan romansa, rinduku telah berpuncak, ia harus segera bertemu dengan tuan pemilik rinduku. Setelah bertemu dengan Seno, kami menghabiskan malam berdua saja dengan berjalan mengelilingi kota, menikmati kerlap lampu malam, tertawa tanpa beban. Besok, Seno harus pergi ke Australia untuk melakukan penelitian demi menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya. Maka, akan ada satu bulan yang kuhabiskan dengan rindu kepada Seno. Malam ini aku telah menebus semua hutang rindu kepada belahan jiwaku, esok aku akan berhutang lagi padanya. Hutang rindu yang akan terus bertambah jumlahnya dan baru bisa kulunasi bulan depan. Pukul 11 malam, Seno mengantarku pulang ke rumah kost dan dia segera meluncur ke bandara. Sebelum pergi Seno menatapku dalam, sangat dalam, tapi ia hanya diam. Seperti menyampaikan sebuah pesan lewat tatapannya. Senandung hujan membuat pesannya tak tersampaikan sempurna. Ia seperti akan meninggalkanku untuk waktu yang lama. “Sepulang dari Australia, aku akan segera menikahimu,” ujarnya dengan penuh keyakinan. Bertopang pada rasa percaya, kuhantarkan doa mengiringi langkah Seno, kutatap punggungnya yang kemudian menghilang di persimpangan jalan. Laki-laki itu sebentar lagi akan menggenggam tangan ayahku dan sah menjadi pendamping hidupku.
Fajar—seperti biasa bangun pagi, sarapan lalu berangkat ke gedung utara Universitas di Jalan Pemuda. Tengah hari—masih beraktifitas di gedung utara. Senja—menikmati hujan di tengah taman kota sambil menitipkan butir-butir rindu kepada Seno. Mungkin seno sedang menatap langit yang sama, tapi entah pada hujan yang sama atau tidak.
Januari, masih hujan sepanjang hari dan sudah saatnya Seno kembali. Taman kota menjadi tujuanku saat ini untuk bertemu Seno. Ia masih dalam perjalanan, mungkin satu jam lagi langkahnya akan tepat berada di depanku. Hujan menderas, taman kota mulai kehilangan manusia-manusianya tapi aku masih setia, menunggu laki-laki yang kucinta. Rencananya hari ini kami akan bertolak ke kampung halaman untuk mengurusi segala hal menjelang pernikahan kami nanti. Mulai dari gaun pengantin, dekorasi pelaminan dan hal remeh temeh lainnya. Dua jam, dan Seno belum datang. Mungkin macet dari bandara. 5 jam dan aku memutuskan pulang ke rumah kost sambil menyampaikan pesan singkat lewat sms. Paginya, handphoneku sunyi masih tanpa balasan. Maka kuputuskan pulang ke kampung  halaman sendirian, mungkin saja dia sudah berada di rumahnya. Perasaanku berkecamuk, mungkinkah Seno hendak memberiku kejutan. Tapi ia tak menitipkan pesan kepada siapapun, Ibu hanya diam saat kutanyakan itu. Mama Seno juga tak menjawab pertanyaanku, beliau hanya memintaku untuk bergegas pulang. Perjalanan yang biasanya kutempuh dalam waktu 3 jam, kali ini terasa sangat lama. Bus yang kutumpangi seperti berjalan lamban. “Seno, kau suka sekali memberiku kejutan. Jangan membuatku makin rindu Seno,”.
Sesampainya di rumah, Ibu mengantarku ke rumah Seno. Gerbang rumahnya terbuka lebar dan banyak sekali manusia dengan mata sembap. Rumah Seno diselimuti kedukaan, tapi siapa yang meninggal?. Mama melihatku dengan cucuran air mata, lalu memelukku erat sambil menyampaikan suatu hal. Ucapnya terbata-bata, lalu menderaslah hujan di hatiku, duniaku mendadak gelap. Aku limbung, tak percaya. “Seno masih hidup, Ma. Dia bilang akan menikahiku sepulang dari Australia. Aku akan menunggunya pulang dari Australia, Ma.” Aku meronta, mengatakan pada semua orang bahwa Seno tidak meninggal. Tapi Mama dan Ibu bersikeras bahwa Seno meninggal. Aku percaya pada Seno, percaya pada cintanya dan percaya pada pesannya sebulan lalu.
 Hari-hari selanjutnya aku masih berkawan dengan penantian dan rinduku. Seno tak pernah membalas pesanku, ia hanya sibuk melakukan penelitian tapi ia tak akan lupa pada janjinya untuk menikahiku. Di hujan yang sama pada tahun berbeda, aku  masih menunggunya pulang dari Australia. Tak akan ada laki-laki lain, biduk telah kutambatkan dan berlabuh di pantai hati Seno.
****

            Begitulah Arina, tak pernah mempercayai sebuah kenyataan. Ia hidup dalam dunianya, dunia cinta kepada Seno. Orang-orang menyebutnya gila tapi Arina berkilah. Ibunya pasrah, telah berbagai macam dukun mencoba menyembuhkan Arina, psikiater, dokter, sampai kyai tak pernah ada yang bisa mengalahkan kepercayaan Arina. Maka tiap bulan sendu, Arina menatap hujan dari balik jendela. Mendengarkan pesan Seno lewat hujan, mengingat tawa mereka berdua. Ia selalu percaya, bahwa Seno masih di Australia dan akan segera pulang untuk menikahinya. Meski ini sudah hujan ke sepuluh pada bulan sendu dan tahun yang entah keberapa, Arina masih berdiri pada kepercayaannya bahwa Seno akan segera pulang. Hujan adalah butir-butir yang ia nantikan, “Seno menitipkan rindunya lewat hujan, Bu.” Ujarnya ketika sedang berkisah kepada Ibunya. Jika sudah seperti itu, Ibunya hanya bisa tersenyum iba. Kini usia Arina menginjak kepala tiga, tapi ia masih hidup dalam penantiannya. Berbagai rupa laki-laki telah mencoba menggeser posisi Seno di hati Arina, tapi tak satupun berhasil. Arina adalah gadis tua yang hidup dalam penantian semunya. Tapi rindunya untuk Seno masih selalu muda, cintanya semakin menguat. Cinta telah membuatnya tuli pada hiruk pikuk kehidupan, rindu telah membekukan hatinya. Arina masih berkutat pada penantiannya. Ia menua tapi cintanya tetap muda. Kecantikannya pudar tapi rindunya bertahan. Manusia lain menaruh iba padanya, tapi Arina menggila pada penantian semunya. Sampai kapanpun Seno tak akan pernah menikahinya, Seno pergi dengan menitipkan jutaan cinta dan kerinduan di hati Arina. 

Kamis, 02 Oktober 2014

PARADE.

Seperti apa kenangan hendak berbondong-bondong
Kembali mengajakku mengeja—berparade membuka lemari ingatan
Tanpa etika meracau mencipta hujatan yang merindukan keredaan
Tanpa gerimis hanya deras yang terus mengusik
Memaksa aorta berpacu lebih kencang, lalu didihan darah telah sampai pada pelabuhan yang tersumbat
Otakku berbenah, mencari kenangan tentang sisa romansa atau lanskap matamu
Membopong semua isinya hingga tersisalah kekosongan
Hingga larut senja masih kucari dibalik lipatan limfa, mungkin sembunyi diantara jejalan darah
Nyaring menginjak dua oktav kumandang suara mencari kenangan
Tapi darah mengalir dengan indahnya tak peduli kegaduhan yang diperanak suara dua oktav itu
Kutengok dibalik kornea, lalu terus melangkah hingga ke balik epitel ibu jari terbesar—kosong
Kenangan tak sembunyi dimanapun
Kromosom pun bungkam, eloknya ia tak bicara tentang kenangan yang berparade di sudut kota itu
Kubiarkan ia terus berparade, menari dan tertawa. Lukiskan kebisingan dari hentakan kaki dan riuh tepukan. Aku, hanya diam dan akan selalu diam
Dibalik kota yang lain, aku mendengar riuhan kenangan yang masih saja mengajakku mengeja.
Santai saja kubiarkan mereka tertawa
Dengungkan irama-irama baru dari simfoni yang semakin aus
Disudut kota lain, kuhirup senja yang terus larut, berkawan sepasang gelas kosong dengan taburan jingga
Lalu lalang jalan kota hanya jadi lembar usang—tak pernah menarik untuk jadi lanskap utama
Di sudut kota dengan laju klakson yang menggema, kubiarkan senja mengerucut. Jingganya menyusup di sepasang bola mata
Lalu alaska gelap sempurna, menyisakan butir-butir putih diantara kelam
Sebuah tawa hadir disana, menjadi pengisi acara pada sebuah parade di sudut kota yang ku jajaki tanpa kebisingan
Kutengok parade yang semula mengajakku mengaja, ia masih ricuh dengan simfoni usangnya
Mereka melupakan harmoni dibalik sebuah nada
Partitur mereka adalah etika yang lapuk usia
Kenangan itu kalah! Tak serupa parade yang anggun, menyergap senja di sudut kota
Kenangan itu caramu menghancurkanku
Kau masih memaksa kenangan itu berparade, dengan melupakan sebuah tontonan parade di sudut kotaku yang terlampau indah
Sebuah parade yang hanya ku temukan pada sepasang mata bola
Haha, aku iba melihatmu terus memaki-maki kenangan yang lelah...


Pada salah satu senja, 2014


Kamis, 25 September 2014

Sebuah Horison Kata

“Diamlah kalian, jangan rusuh. Sabarlah, sebentar lagi akan kukirimkan kalian kepada tuan itu! Jangan ganggu ritualku dengan senja!”
******
Di salah satu senja, jari-jariku menari, mencipta kata yang akhirnya akan kau tuai. Entah  malam nanti, esok pagi, saat kau hendak tidur, saat kau sedang makan, atau kapan saja sebahagia hatimu. Aku selalu yakin, barisan kata ini akan mengekor di belakang langkahmu yang tegap atau mungkin saja mendahuluimu. Aku tidak peduli apakah kata-kata yang berderet ini akan mengganggumu atau tidak, yang pasti aku hanya mengirimkan mereka ini untuk jadi kawanmu setiap waktu. Jika nanti mereka mengganggumu, jangan pernah menyalahkanku. Mereka, kata-kata ini yang jahat. Dia menyiksaku saat aku bercumbu dengan senja. Maaf, aku hanya bercumbu dengan senja, dia bukan orang lain. Aku hanya menaruh harapan pada senja, sekedar bercengkrama dengannya sembari mengulang cerita. Kadang senja menggambarkan sedikit tentangmu, ia menjelma matamu yang tenang. Hingga sekian waktu berselang senja berhasil menjelma dirimu, jadilah senja itu kamu. Maka, jangan marah jika suatu ketika kau menemukanku sedang bercumbu dengan senja, memeluk langitnya yang kemerah-merahan, atau menggenggam erat matahari yang memancarkan cahaya keemasan. Senja itu bukan orang lain. Sekali lagi kutegaskan, senja bukan orang lain. Dan tentang kata-kata yang jahat itu, dia menggedor-gedor pintu hatiku. Memaksa otakku untuk memberi perintah pada jari-jariku yang telah kelu. Mereka mengganggu islahku dengan senja. Aku benci saat-saat itu. Saat langit semakin merah menyaga, mereka semakin kuat melakukan perlawanan kepada hati, otak, darah, otot, tulang dan seluruh elemen pada tubuhku. Mereka semakin memaksaku untuk dikirimkan kepadamu. “Aku ingin bertemu tuanku!” mereka berteriak-teriak tanpa ampun. Aku bisa apa? Tak ada kekuatan untuk menahan mereka yang berbondong-bondong. Semakin lama, kurasa semakin banyak. Ada kemungkinan dalam waktu beberapa menit itu mereka beranak pinak. Ketahuilah, aku benci masa serupa ini. Maka dengan kekuatan yang tersisa, kubiarkan jari-jariku menari mengirimkan mereka padamu.
Aku hanya takut mereka akan terus menghantuimu, mengekor di belakang langkahmu, seperti anakan sungai yang mengalir ke muara. Tentunya, aku akan merasa bersalah telah mengirimkan si kata-kata usil ini padamu. Mereka merengek-rengek seperti balita merindukan balon dan permen. Aku bisa apa? Tidak pernah kuasa kulihat mereka memelas. Semakin iba aku dibuatnya. Maka di senja ini ku kirimkan mereka kepadamu.
Mereka memang hanya sekedar kata-kata yang bahkan mungkin banyak manusia memandangnya sebelah mata. Tapi mereka jauh dari kata biasa, jika mereka sudah sampai padamu nanti, akan kau temukan cinta yang mengikat di dalamnya. Mengakar di setiap huruf dan akan terus memanjangkan akarnya. Lalu cintanya itu akan rimbun, lebih indah lagi mereka telah berbuah rindu. Dan kau tahu, cinta itu terus rimbun, buahnya akan semakin berlipat dan selalu berlipat. Maka itulah alasan mengapa mereka memaksaku untuk dikirimkan padamu. Akarnya sudah terlalu panjang, pohon cintanya sudah sangat rimbun, dan buahnya sudah tak terhitung lagi. Buah itu harus segera di panen oleh tuannya.
Deretan kata ini benar-benar menyiksa. Mereka bukan hanya mengganggu waktuku dengan senja, rindunya yang terus berbuah itu membuatnya semakin berat untuk kubawa. Bayangkan saja mereka mengakar cinta dengan sangat panjang, lalu tumbuh tinggi dan rimbun, masih berbuah rindu yang lezat. Itu terlalu berat untuk ukuran wanita sepertiku. Mereka benar-benar merepotkan. Berkali-kali kubilang untuk tinggal saja dengan tenang di dalam tubuhku dan jangan berbuah. Tapi mereka terlalu keras kepala. Aku tidak habis pikir, darimana mereka mendapat air dan cahaya untuk tumbuh dan berbuah, alasan mereka tak pernah masuk akal “Mata tuanku adalah telaga yang tenang, dan cintanya ialah kekuatan untuk berbuah, lalu senyumnya menyiratkan cahaya yang selalu kami ikat dengan klorofil di tiap-tiap daun kami” kata mereka dengan tanpa rasa bersalah. Barangkali tidak bertemu denganmu adalah cara untuk membuat mereka tak tumbuh lagi. Tapi kau harus tahu, mereka benar-benar jahat. Rombongan kata-kata ini tak pernah kehabisan cara untuk mendapatkan sumber cahaya dan airnya. Hinggga pada akhirnya selalu saja mereka berhasil menyeret langkahku ke hadapanmu. Mereka selalu tahu dimana tuannya berada, atau barangkali kau juga yang licik. Mungkin kau juga yang menyuruh mereka untuk menyiksaku dengan buah-buah rindunya.
Kutengok senja semakin sendu, aku harus kembali padanya dengan cepat. Sebelum buah-buah rindu mereka semakin berlipat, kukirimkan saja padamu. Kuingatkan lagi, jangan salahkan aku jika mereka nanti menghantuimu, atau hidup dibalik derap langkahmu. Jika kau hendak menyimpannya dalam tubuhmu, silahkan saja. Di sisa senja ini, kuserahkan mereka pada tuannya. Setelah ini, akan tumbuh lagi kata-kata dalam tubuhku. Dan aku akan mengajari si kata baru itu agar lebih beretika. Supaya mereka mengakar, tumbuh dan berbuah rindu dengan bijaksana. Nantinya, kata-kata baru itu akan menjadi si kata baru yang sopan. Tidak akan ricuh berebut air di telaga matamu yang tenang, atau membuat sayembara  untuk memenangkan cahaya senyummu. Kata-kata baru itu tidak akan seperti itu lagi. Aku janji, jika nanti akhirnya si kata baru itu sudah berbuah rindu dan saatnya untuk kukirimkan padamu, mereka akan sampai dengan tenang tanpa kericuhan.
Sebentar lagi kata-kata dengan buah rindu yang terlampau banyak ini akan sampai padamu. Tertatih aku membawanya, mereka terlalu berat. Masih sama seperti rombongan kata yang sebelumnya. Mereka hidup dan tumbuh dengan kejujuran tanpa majas apapun. Kamu, si tuan kata-kata, jangan licik lagi ya. Sudah cukup bersekutu dengan mereka untuk menyiksaku dengan buah rindu yang berlimpah dan teramat berat. Mungkin mereka akan sampai saat senja telah kembali ke peraduannya. Saat langit gelap sempurna. Sekarang sudah saatnya aku menikmati sisa senja yang beradu ini. Masih tersisa gemetar di dalam tubuhku setelah mengantarkan mereka pada tuannya. Bayangkan saja, aku membawa mereka yang rimbun dan berat itu dengan tanganku sendiri. Kuikatkan akar-akar mereka yang teramat panjang di tubuhku. Kata-kata berbuah rindu itu benar-benar jahat. Sebentar lagi mereka akan sampai pada tuannya. Dan si kata baru yang tumbuh dalam tubuhku akan beranak pinak dengan bijak. Selamat bertemu dengan rombongan kata berbuah rindu itu. Selamat senja, tuan kata dengan mata yg dibanjiri telaga ketenangan. Semoga siluet kasih dari bola matamu terus memancar dan sampai pada kata berbuah rindu yang tumbuh dalam tubuhku.



Sabtu, 13 September 2014

Biar Saja Postingan Ini Tidak Menemukan Judulnya

Sudah lama tidak berkunjung ke rumah kecil ini. Ketika saya masuk, ada banyak sarang laba-laba disini. Entah berapa lama saya tidak meninggalkan catatan di rumah kecil ini. Saya sedikit sibuk dengan kebahagiaan baru. Ada dunia baru yang harus saya nikmati. Dunia yang saya temukan di sepasang mata yang tenang. Sebuah dunia, tentang derai tawa dan kesetiaan. Tentang dunia pelangi yang datang selepas hujan dan badai memporak-porandakan hati saya. Saya sadari, banyak penguat di sekeliling saya. Penguat yang hadir bukan dari ke-semu-an.

Setelah sekian waktu terlewat dan semua cobaan mendera, saat saya mencoba terus melapangkan hati, setelah itu semua, bahagia benar-benar datang dari arah yang tidak saya duga. Benar memang tidak mudah menghapus luka yang sudah terlanjur menjadi duri diantara sutra,  butuh waktu. Iya, kita hanya perlu menyesuaikan semuanya. Perlu menguatkan hati untuk keadaan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Tapi tak baik pula meratapinya berkepanjangan. Banyak hal yang bisa kita lakukan daripada sekedar menengok ke belakang dan menyesali semuanya. Biarlah yang berlalu itu cukup menjadi pelajaran berharga bagi hidup kita. Pelajaran yang mungkin dalam kurikulum 2013 pun tak kita temukan. Pelajaran yang tersirat. Pelajaran yang menghadirkan luka untuk setelahnya memberikan ketegaran bagi hati kita. 

Membuka mata dan menyadari bahwa masih banyak yang peduli adalah pantas kita lakukan. Jangan pernah merasa sendiri. Karena memang faktanya kita tak pernah sendiri. Jika ada yang pergi, maka percayalah akan ada yang datang dengan harapan baru. Jangan takut sakit hati, karena ya begitulah hidup. Suka selalu berdampingan dengan duka. Mereka teman setia. Hadir bergantian dalam hidup kita. 

Setelah kisah cuklek yang saya rasakan, ada bara kebencian yang tak kunjung padam. Tapi harus saya kikis perlahan. Karena sekuat apapun saya membenci tidak akan pernah berpengaruh baik bagi hidup saya. Maka melapangkan dada dan menjalani kehidupan baru yang jauh berbeda dari sebelumnya adalah sebuah jalan yang harus saya tempuh. Dan hasilnya tidak pernah saya duga, ada kebahagiaan yang datang dari arah tersembunyi. Menyusup masuk kedalam hidup saya, dengan lembut mencipta tawa, dan menjadikan hari-hari saya lebih baik dari sebelumnya. Ada semangat tercipta dari mereka yang peduli, dari mereka yang tersenyum serta tertawa. Semua bahagia itu membaur, perlahan menutup luka. 

Ada kehidupan baru yang harus saya jalani disini. Ada senyum dan tawa yang harus tetap memancar setiap hari. Mengusir elegi-elegi. Tak ada satire. Tak ada benci, dendam, iri, dengki. Memang awalnya tak akan mudah. Kita hanya perlu menerima kenyataan dengan lapang. Menjalaninya dengan sadar. Percaya saja gaes akan ada pelangi selepas hujan. Biarkan masa lalumu membuatmu selalu berkaca. Hidup itu jalan kedepan gaes. Ada suka disana, ada bahagia diujung sana. Percayalah.


Kamis, 10 Juli 2014

Bahagia itu Lapang

Saya mencoba berpikir lapang. Mengikhlaskan bahwa apa yang Allah rencanakan memang yang terbaik. Ketika dia pergi dengan seribu kebisuan, tanpa pesan dan alasan hingga belakangan ini saya ketahui dia kembali bersama kebahagiaan masa lalunya, saya hanya bisa mengucap hamdalah berkali-kali. Iya alhamdulillah, kepergiannya membuat saya sadar dan tahu siapa yang pantas dipertahankan. Alhamdulillah, Allah telah membelalakkan mata saya bahwa sebenarnya dia memang tidak dipantaskan bersanding dengan saya. Dia bukan untuk saya. Ikhlaskan saja. Semua yang telah terjadi beberapa bulan terakhir dan semua kebodohan belakangan ini, memberikan saya banyak pelajaran tentang kehidupan. Intinya yaa, jangan jatuh ke lubang yang sama. 

Nah, setelah pelajaran berharga itu, setelah dia menjadi kenangan. Ada sosok yang kembali muncul perlahan. Saya sadar, secuil kenangan itu tidak benar-benar hilang dari ingatan saya. Kenangan kecil itu hanya terdesak di dalam sudut otak saya, kemudian setelah otak saya kembali lapang kenangan itu hadir mengingatkan dan menyadarkan bahwa kenangan kecil itulah yang pantas saya pertahankan. 

Gaes, lagi-lagi saya harus bilang. Semua yang sudah berlalu ikhlaskan saja. Kebahagiaan itu ga sempit. Jika dia pergi, sadar saja dia bukan yang terbaik untukmu. Karena yang terbaik tidak akan pergi gaes. Karena yang terbaik itu yang telah Allah tetapkan untukmu. Ketika saatnya tepat, yang terbaik akan menemui kita. Sekali lagi, untuk mengakhiri postingan ga penting saya ini. Bahagia itu lapang gaes!

Jumat, 04 Juli 2014

Pada Jumat Malam yang Panjang, Rindu itu Tercipta!

Rindu yang menembus lapis-lapis langit itu, membelah biru pada kelam senja lampau tak pernah sunyi meski hasrat mati—membeku.

Rindu yang terjepit diantara adzan dan iqomah itu telah membaui basah sajadah berkawan sayup dengkur tetangga dibalik selimut yang ditarik menutup dada.

Rindu sembunyi dibalik batu, seirama dengan riak hujan fajar terakhir, menyusup diantara desah nafas pengais rezeki, membahana ditengah tawa budak alas kaki lusuh. Yang dengannya itu ditaruhlah semangkuk harapan, untuk tak lekang menyerap sajak.

Rindu menciptakan samudera pengharapan, untuk jarak yang membunuh kilau kerendahan. Megahnya rindu menyerupai istana sultan dahulu.

Aku ingin mencintaiMu dengan benar, seperti jawaban di soal ulangan sejarah. Tapi manusia tak ubahnya guru-guru yang enggan menyertakan angka 10 dalam garis hitam raport seniku.

Akan kucoba merengkuhMu dengan benar-benar, seperti usahaku menghapus angka enam di ujung kertas kimia yang tak tega untuk kuhadirkan di pelupuk mata.

Kesepuluh jemari mungilku berjuang memelukMu dengan benar lewat kalam yang didengungkan dalam kegelapan yang panjang, menyerupai tundukan bulan pada bintang.

Rindulah aku....
Mengecup bibir diujung dzikir “lailahaillallah”
Bercinta dengan tatap yang berlinang “Astaghfirullah”
Aku beku—nanar—melepuh—horisonMu tak kuasa kusentuh 

Dan kesemuanya itulah mengantarkan kedua tangan untuk tetap menengadah, diulurkan-Nya sebuah jembatan memanjang dari seutas tali kebekuan yang dibawahnya mengalir coklat dahaga. Kepada-Nya lah semua rindu bermuara.

Kupeluk langit, sebelum fajar beranjak menyekap hitam. Pada langit yang sama, Adam dan Hawa dipertemukan, jumat—berjuta tahun silam.


Rindu mengotori jalanku padaMu, maafkan aku....