Mengenai Saya

Foto saya
Segala sebab akibat perihal rindu. Selamat membaca! Semoga bermanfaat :) sosial media: ig : https://www.instagram.com/sasmithaarofa/ See you soon!

Senin, 28 November 2016

PENCIPTAAN KONTROVERSI

Rindu
adalah haribaan tentang kamu
kenangan kaku
memasung hingga ke hulu

kamu
ialah haribaan rindu
kenangan memasung semu
ilusi
harapan
penghabisan
perihal temu yang tak berwujud

maka
biarkan aku menerima kepastian
pasal haribaan kita
bersenandung
menerka masa depan
abu-abu
begitu
sebab kamu
tak disini
melukis puisiku.

[ Hidup - Penghidupan - Kehidupan ]

[ KEHIDUPAN PERLU DIABADIKAN, PUISI ADALAH JALAN MENULIS KEHIDUPAN ]

Akhirnya menulis lagi setelah sekian lama tidak menulis.
Akhirnya kukunjungi kau lagi Ayana.
Selanjutnya akan kuberi kau puisi-puisi, tidak selamanya tentang aku. Coba kau artikan, siapa dan darimana segala puisi yang kutulis ini berasal. Ingat, Ayana ini tidak selamanya tentang aku. Selamat Membaca!

 LENGAH

 Sebab masih ada hal baik dari "aku baik-baik saja"
maka izinkan
Aku berbaik sangka
Pada burungnya sangka

Padamu.

Sudah
Sudah pula
Sudah lagi
Selalu sudah
Kulabuhkan itu

Padamu.

Jengah
Kamu paksa aku tak jengah
Rindu itu
Menyiksaku hingga jengah

Padamu.
Ku terbiasa
Padamu,

Sendiri,
Tanpamu.

Kota ramai,
hatiku sepi

tanpa kamu. 

Selasa, 06 September 2016

"Mengapa Politeknik Negeri Jember?" Tanya Mereka, Ay.

Hasil gambar untuk lukisan abstrak rindu
sumber : www.ibcworldnews.com





Selamat Malam, Ayana! Hari ini adalah hari keduaku kuliah. Di jadwal, mata kuliah yang harus ku tempuh adalah psikologi. Kemarin aku menempuh mata kuliah Ilmu Komunikasi. Besok aku mulai menempuh segala hal yang berkaitan dengan gizi. Mulai dari ilmu gizi dasar, sosio antropologi gizi, anatomi dan patologi, sampai ilmu kesehatan masyarakat. Sejak aku mulai kuliah banyak yang bertanya "Mengapa memilih polije (politeknik negeri jember)?". Aku ingin menjelaskan banyak hal kepada mereka yang menanyakan hal serupa, Ayana. Tapi mungkin mereka tidak akan paham ataupun sedikit mengerti. Bahwa sebenarnya kampus ini juga tidak pernah terbayangkan dalam benakku, terbesit saja tidak. Maka kuceritakan padamu saja.

Saat awal masuk kelas 12, aku dan teman-temanku mulai disibukkan dengan berbagai macam pilihan kuliah mulai dari universitas dan akademi, tapi bukan politeknik. Aku sama sekali tidak mengenal politeknik. Berbulan-bulan aku bimbang dan selalu berganti pilihan. Sampai menjelang pendaftaran SNMPTN pilihanku masih belum terpaku. Sholat istikharoh terus kulakukan supaya aku tak salah langkah dalam mengambil keputusan. Kemudian Ayana, tiba suatu ketika aku ingin menjadi seorang Ahli Gizi. Mendekati pendaftaran snmptn, keinginan itu makin kuat Ayana. Kita percepat ya ceritanya. Karena aku tidak lolos snmptn Ay, jadi aku harus daftar sbmptn dong. Dan pilihanku masih tetap Ayana, di kampus impianku Universitas Airlangga. Setelah tes sbmptn, aku diajak oleh beberapa teman untuk mengikuti tes UMPN (Ujian Masuk Politeknik Negeri) semacam sbm untuk politeknik. Nah, aku mulai mencari berbagai informasi mengenai politeknik. Dan gizi klinik lah salah satu prodi yang sesuai dengan apa yang aku cita-citakan, Ay. 

Diluar dugaan, tes yang aku jalani setengah hati ini bisa membawaku lolos dan diterima di prodi impianku. Nah, ketika pengumuman sbmptn dan aku dinyatakan lolos di prodi Budidaya Perairan Universitas Airlangga, aku dihadapkan pada sebuah kebimbangan (lagi) Ay.Aku diterima di kampus impian tapi bukan jurusan impian, juga di jurusan impian tapi bukan kampus impian. Menyedihkan lebih tepatnya membingungkan. Lagi-lagi aku takut salah langkah Ay. Maka tidak ada pilihan lain kecuali memohon petunjuk-Nya. Setiap hari aku selalu memohon petunjuk-Nya dan mencari informasi tentang dua kampus ini, Ay. Menjelang hari terakhir registrasi ulang sbmptn aku seperti diberi jalan dan petunjuk. Petunjuk berupa apa? Coba tebak! Petunjuknya adalah aku tidak bisa melakukan daftar ulang sbmptn, hanya karena aku tidak bisa menemukan lamannya. Aneh memang, tapi nyatanya memang begitu Ay. Maka tidak ada pilihan lain, aku harus menjalani kuliah di Politeknik Negeri Jember dengan jurusan impianku. Rasanya terlalu panjang jika harus kujelaskan ini kepada mereka semua, Ay. Banyak  yang menyayangkan keputusanku karena melepas kampus impianku(Unair) disaat ribuan orang ingin masuk ke sana, aku malah melepasnya. Mereka harus tahu, Ay. Aku tidak melepaskannya begitu saja, Ay. Aku melepasnya setelah melewati perdebatan panjang dengan hatiku, dengan Tuhanku. 

Sekarang inilah yang harus aku tempuh, Ay. Berjuang bersama rindu-rindu yang beku. Di sini, di tempat yang sama sekali tak pernah ku impikan. Tapi takdir Allah memang selalu baik, Ay. Kita hanya perlu berjuang dan bersabar, begitu kiranya pesan abiku. Kau tahu tidak, Ay? Bahwa sesungguhnya berjuang bersama rindu itu menenangkan. Mengapa demikian? Sebab bagiku segala hal yang menenangkan itu belum tentu rindu, tapi segala hal tentang rindu sudah pasti menenangkan. Di sini segala hal harus kulakukan sendiri, Ayana. Tidak ada orang tua juga tidak ada dia, dia yang menciptakan rindu-rindu ini. Sebulan yang lalu sebelum kami berpisah untuk nantinya bertemu dengan lebih bahagia, ia tanamkan rindu di sini. Aku rajin merawat rindu itu hingga tumbuh lebat. Sesekali kupangkas dengan doa supaya tetap indah. Pohon rindu ini menjadi tempat rindang dan sekali lagi menenangkan. Aku sendirian di sini, bergelantungan bersama rindu itu Ay. Setiap hari. Tapi rupanya rindu yang ia tanamkan itu mengajarkanku untuk tetap kuat meski aku sedang jatuh. Bahkan ketika rasanya tidak ada lagi kekuatan untuk bangkit, pohon rindu itu berbuah kekuatan yang kemudian membuat aku berdiri lagi. Sebab rupanya ia ingin ketika kami bertemu lagi nanti aku berada dalam posisi terkuatku. Ia tanamkan rindunya di sini supaya nantinya aku tetap tegak, berdiri, tersenyum, menopang segala hal yang menjatuhkanku. Dia hebat, Ay. Telah dia siapkan semuanya, bahkan meskipun dia tak di sini rindunya ia tanamkan supaya tetap dekat. 

Begitulah Ayana kisah rinduku malam ini. Sampai bertemu di kisah rindu yang lain. Semoga kau tidak bosan. Selamat merindu, Ayana!  

Minggu, 21 Agustus 2016

Ayana, itu Rindu!



Akhirnyaaaaa, bisa masuk blog lagi. Semoga siapapun yang sudi membaca ini dilimpahkan kebahagiaan dan hati yang lapang. Amiin! Oh iya, bagi yang sedang merindu semoga dikuatkan berjuang bersama rindunya dan segera dipertemukan dengan orang yang dirindu. Selamat membaca! maaf sudah menyita waktu kalian semua untuk membaca tulisan yang sedikit gak penting ini, hehe.


  

Hai Ayana,
sudah siap mendengar ceritaku hari ini?. Ayana, kali ini entah hari keberapa aku berkabung rindu. Berenang-renang dengan indah didalamnya. Entahlah Ayana, kisah tentang rindu itu tak pernah habis. Rindu selalu saja punya sesuatu untuk hidup dan tetap menjadi rindu. Parahnya meski kadang ia jahat menusuk ke relung hati, mencabik-cabik pikiran sebab berkolaborasi dengan kenangan dan tingkah pola jahat lainnya yang menyiksa aku tetap suka menceritakannya dan menjadi topik utama setiap aku denganmu. Kau bosan tidak?

Hari ini aku masuk ke sebuah kehidupan baru. Kehidupan yang sedikit berbeda dengan sebelumnya. Ada teman-teman baru, lingkungan baru, tempat baru, juga kebiasaan merindu yang baru. Sebab rindu yang hadir juga baru, Ayana. Meski rindu pada orang yang sama tapi macam rindu ini lebih kuat, hebat, dan benar-benar jahat. Aku seperti sendirian kali ini Ayana. Di sekitarku hiruk pikuk tapi rindu yang jahat itu menciptakan kesepian. Tentunya sejak jauh-jauh hari sudah kusiapkan hatiku untuk suasana ini. Sudah kubuka dengan lapang dan berbagai macam tempat di relung hati supaya rindu itu tetap nyaman berada di dalamnya. Namun sebaik apapun aku menyiapkannya tetap saja aku kalang kabut. Bingung cara mengatasinya. Berantakan, begitu!

Sudah lama ya rupanya aku tak mengunjungimu. Hampir setahun aku tak bercerita padamu. Maafkan aku, Ayana. Bukan aku yang menyibukkan diri, tapi keadaan yang membuatku sibuk. Sekarang aku sudah di kota yang berbeda, Ayana. Kota yang sama sekali tak masuk dalam daftar cita-cita dan impianku. Tapi, siapa yang tahu rencana-Nya? Kita hanya bisa berusaha tanpa mampu menerka. Aku hanya percaya bahwa segala hal yang ditakdirkannya adalah yang paling baik untukku.
Maaf ya kali ini kuganggu kau pagi sekali. Silahkan lanjutkan aktivitasmu, Ayana. Nanti ku kunjungi kau lagi dengan setumpuk kisah rindu yang baru. Selamat Pagi!

Rabu, 16 September 2015

Surat dan Metamorfosa Rindu (Mozaik 1)

Guten Abend! Sudah lama sekali tidak mengunjungi rumah kecil yang usang ini. Ulang tahun sekolah sedikit menyita waktu saya, hehe. Malam ini saya coba berkunjung lagi dan menemukan keadaan blog kecil ini tanpa perubahan apapun :) 
Di tulisan kesekian yang (masih) kurang penting ini saya masih bercerita tentang rindu, masih tentang rindu dan selalu tentang rindu. Bagi saya rindu masih menjadi kata paling romantis. Rindu menyimpan kehangatan, kasih sayang dan do'a. Tulisan ini sukses diselesaikan pada saat, em, saya lupa kapan tulisan ini saya buat. Sudah terlalu lama rupanya. Baiklah selamat membaca, semoga merindu :)

Surat dan Metamorfosa Rindu
(Mozaik 1)

Hai Tong, apa kabar? Kau masih hidup atau sudah pindah alam? Hidung kau berubah jadi pesek kah? Kau masih suka jailin tukang sate yang lewat tengah malam di taman kota? Tong, kau masih suka menjelma jadi monyet pencuri pisang di ladang sebelah rumah? Ah, Tong aku masih dengan rindu yang sama sejak kau pergi. Pergi dari aku, pergi dari kita Tong. Sejauh ini kau masih saja bisu. Sejak kau pergi, aku jadi bodoh Tong. Hendak saja aku menampang fotomu dengan tulisan besar “DICARI”. Aku masih berantakan Tong. Kau bilang akan menitipkan rindu pada hujan. Haha kau jangan gila Tong, hujan saja tidak mampu membawa dirinya bagaimana hendak membawa rindu?. Setiap kali hujan datang dan mampir di teras rumah kita selalu kutanyakan adakah titipan rindu dari kekasihku, Tong? Mereka acuh saja Tong, lalu untuk apa kau menitipkan rindu pada yang acuh? Kau juga pernah bilang, senja bisa sekali membawakan rindu dalam jingganya. Sayangnya senja tak mau bicara Tong, lalu sia-sia kau titipkan rindu pada kebisuan. Tong, tolonglah berpikir panjang bila hendak menitipkan rindu. Jangan pergi seenak kau mau. Aku ini hanya hidup denganmu, tiba-tiba saja aromamu tak pernah menggelikan bulu hidungku. Tiba-tiba saja suaramu tak memenuhi gendang telingaku. Semuanya serba tiba-tiba Tong. Aku belum siap, bahkan tak akan pernah siap Tong. Sejak kau pergi aku miskin seketika, Tong. Bagaimana tidak? kamu kan kekayaanku satu-satunya. Untungnya aku masih bisa hidup meskipun setiap hari harus makan dengan rindu. Tong maumu itu apa? Menggeletakkan kebahagiaan yang sudah kita bangun mati-matian. Jangan bodoh Tong, sekalipun aku biasa bekerja keras mengangkat karung-karung beras di pasar tapi aku tak cukup kuat untuk membangun kebahagiaan dengan sendiri begini. Tak lucu lah Tong, rumah bahagia yang kita bangun itu baru separuh. Lalu kau biarkan saja begitu? Menganga, menerima hujatan-hujatan luka akibat kau tinggalkan. Sudah separuh, hampir roboh pula. Bangunan itu terlalu rapuh lah, Tong. Aku ini sudah miskin malah kau buat makin miskin. Bosan Tong setiap hari makan nasi berlauk rindu, sekali-kali lah kau pulang, mewarnai sarapanku hingga tak jadi sesunyi ini. Kau kemana, Tong? Mulutmu itu kau museumkan kah? Pergi tak bilang-bilang, belum ada persiapanku untuk kesepian begini.  Tong, aku lelah menangisi kesendirian ini saban hari. Remuklah aku, Tong, kau titipi kenangan yang menyeret-nyeret langkahku untuk tetap tinggal di sini. Pulanglah Tong, pintu rumah kita selalu menganga, siap menelanmu dengan berbagai rupa kerinduan yang mahal. Bayar semua kesalahanmu Tong, cumbui rinduku. Jangan kau pasung aku begini, hidup dalam ketidakpastian tanpa matamu dan sumpah serapahmu yang romantis. Jangan sadis Tong, cepatlah pulang. Sebelum rumah kita usang, dan aku tergeletak didalamnya lalu kukuburkan diriku sendiri dalam gundukan kenangan yang kau ciptakan. Pulang Tong, Pulang!

Bersambung...

Rabu, 20 Mei 2015

JARAN SLINING TONGGAK BUDAYA KOTA PISANG DI KANCAH NUSANTARA

Bagaimana ya mengawali postingan ini? Em, begini saja kalau biasanya saya memposting puisi atau entahlah satu hal yang tidak penting yang mungkin hanya saya yang paham, kali ini saya akan memposting sesuatu hal tentang daerah kelahiran saya, Lumajang. Sedikit kebudayaan tentang Kota Pisang. Artikel ini saya buat saat mengikuti salah satu lomba menulis artikel. Selamat Membaca! Semoga Bermanfaat!

Saya ada diantara puluhan peserta Lomba Menulis Artikel Jaran Slining 2015
dan Duta Wisata Cak dan Yuk Lumajang 2015. 


JARAN SLINING TONGGAK BUDAYA KOTA PISANG DI KANCAH NUSANTARA

Indonesia adalah negara kepulauan yang dikenal dengan keragaman budayanya. Masyarakat di negeri ini hidup berdampingan dan memeluk erat adat istiadat yang lahir dari nenek moyang bangsa Indonesia. Keragaman budaya itu tetap dijaga dan dilestarikan oleh seluruh lapisan masyarakat. Setiap daerah di nusantara memiliki ciri khas dan corak kebudayaan yang berbeda dengan daerah lainnya. Perbedaan ini menciptakan akulturasi budaya yang menambah ragam budaya baru. Meski hidup di tengah keragaman budaya yang unik dan menarik, masyarakat Indonesia mampu mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsanya dibawah naungan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Kebudayaan ini terus berkembang dan tetap lestari tidak tergerus globalisasi. Filosofi-filosofi dalam setiap budaya masih dipercaya oleh masyarakat, keaslian budaya baik dalam musik, tari, atau adat istiadat selalu dijaga. Kebanggan terhadap budaya negeri sendiri masih bersarang pada diri masyarakat Indonesia. Meski modernisasi mulai menyelimuti negara kita, beberapa masyarakat tetap menjaga dan melestarikan budayanya  agar tidak menjadi punah dimakan zaman. Ragam budaya di setiap daerah memiliki sejarah, ciri khas, keunikan dan filosofi masing-masing sesuai daerahnya, termasuk budaya di Kabupaten Lumajang.
Kebudayaan di Kabupaten Lumajang dikenal dengan nama “Pendalungan” yang berasal dari kata “danglung”. Kebudayaan ini lahir dari akulturasi budaya Jawa dan Madura yang menghasilkan corak budaya khas Lumajang dengan unsur budaya Jawa dan Madura yang masih melekat di dalamnya. Dalam budaya pendalungan muncul etnik budaya yang didominasi oleh alat musik danglung yaitu sebuah kentongan dari kayu nangka. Pendalungan juga melahirkan lima seni tari khas yang tetap lestari di tengah hiruk pikuk modernisasi masyarakat, yaitu Jaran Kencak, Godril Lumajangan, Jaran Slining, Gelipang Rodat, dan Topeng Kaliwungu. Selain terkenal dengan Kota Pisang, Lumajang juga terkenal dengan kesenian Jarannya. Jaran atau kuda ini menjadi ikon Kabupaten Lumajang pada saat peringatan Harjalu (Hari Jadi Lumajang) ataupun kegiatan kesenian lainnya. Salah satu kesenian yang unik dan menarik dari Kota Pisang ini adalah Jaran Slining. Seni tari dengan ritme musik yang cepat ini seringkali menjadi hiburan pada acara hajatan di berbagai kalangan masyarakat.
Aset Lumajang yang merupakan turunan dari Jaran Kencak ini memiliki irama rancak tanpa gerakan pakem. Lahir dari masyarakat bawah, Jaran Slining menjadi hiburan yang digemari masyarakat pada masa itu. Para petani menggunakan anyaman dari bambu untuk membuat jaran atau kuda. Satu orang menunggangi kuda dan satu orang pengencak dengan membawa pecut atau sapu lidi adalah sepasang penari dalam Jaran Slining. Keduanya menari mengikuti irama musik seronen. Musik yang terdiri dari alat musik gong, gendang dan danglung ini mengalun mengiringi sepasang penari yang mengembangkan gerak tari secara bebas atau sesuai kreativitasnya. Gerakan dalam tarian ini merupakan apresiasi dari manusia yang menunggangi kuda karena dahulu kuda menjadi alat transportasi utama dan menunggang kuda adalah olahraga yang digemari masyarakat. Pengencak menggunakan topi (kopyah) yang agak tinggi, namun seiring berkembangnya kreativitas seni, kopyah pada pengencak diganti dengan aksesoris kepala berbentuk setengah lingkaran dengan warna yang beragam atau aksesoris lainnya yang menambah kesan ceria pada pengencak. Jaran Slining menjadi semakin semarak dan menarik dengan pakaian para penari yang didominasi oleh warna merah, hijau, kuning, dan warna-warna mencolok lainnya. Warna-warna ini sesuai dengan budaya masyarakat Madura yang cenderung pada warna mencolok. Melambangkan keberanian, kelembutan, dan keceriaan warna pakaian dalam Jaran Slining dipilih karena sesuai dengan tujuan tarian ini. Dibalut berbagai aksesoris baik pada jaran atau penunggang, Jaran Slining menjadi hiburan yang menyenangkan. Kesenian yang dahulu hanya menghibur masyarakat petani kemudian berkembang dan lestari di tengah lapisan masyarakat Lumajang.

Pembukaan Festival Seni Tari Jaran Slining 2015,
ditandai dengan pemukulan gong oleh Bupati
Lumajang, Bapak As'ad Malik. 
Namun, modernisasi yang menderas di Indonesia tidak terkecuali di Kabupaten Lumajang menciptakan kekhawatiran beberapa kelompok masyarakat Lumajang. Budaya barat yang hadir berurutan melunturkan kecintaan generasi muda terhadap budaya dan kesenian daerahnya, termasuk kesenian Jaran Slining. Untuk menyelamatkan dan melestarikan seni tari khas Lumajang ini maka dilaksanakanlah Festival Seni Tari Jaran Slining 2015. Diprakarsai oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lumajang festival ini digelar pada hari Minggu, 15 Maret 2015. Bertempat di Pentas Budaya Kawasan Wonorejo Terpadu, festival ini berhasil menarik minat masyarakat Lumajang terhadap Jaran Slining. Acara dimulai pukul 13.00 dan diawali oleh penampilan dari CIO Indonesian Arts Culture yang membawakan Tari Meruang Waktu. Kemudian disusul dengan lagu Lumajang Sayang yang dinyanyikan oleh Paguyuban Duta Wisata Cak dan Yuk Kabupaten Lumajang. Pra Acara ditutup dengan Tari Remo oleh perwakilah STKW Surabaya (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya). Memasuki acara inti, Sanggar Diamond Arts Perform berkesempatan untuk membuka acara dengan tariannya. Festival yang dibuka secara resmi oleh Bapak Bupati Lumajang ini diikuti oleh 39 peserta dari berbagai sanggar di Kota Pisang. Ditandai dengan pemukulan gong festival dimulai, bergantian sesuai dengan nomor urut seluruh peserta menari mengikuti irama musik yang rancak. Meski hujan deras turun selama pelaksanaan festival tidak menyurutkan semangat para peserta untuk menampilkan yang terbaik.
Peserta dibagi menjadi dua kategori, yaitu kategori anak-anak dan kategori remaja. Setiap peserta menampilkan tarian dengan gerakan, pakaian, dan kuda yang berbeda. Festival ini bermula dari adanya ide salah satu sanggar sebagai usaha melindungi Jaran Slining dari kepunahan. Gayung bersambut dan ide itu direalisasikan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Menggandeng  CIO Arts
Parade seluruh peserta
Culture Indonesia
, festival seni tari ini berhasil digelar dengan semarak dan meriah. Dihadirkan 5 seniman sebagai dewan pengamat untuk memilih 3 penyaji terbaik non rangking dari setiap kategori. Bapak Wahyu Dianto selaku dewan pengamat I menuturkan bahwa kriteria penilaian dalam festival ini dilihat dari dua segi. Pertama dari segi performance yang meliputi penyajian dan kreati
vitas, kedua dari segi artistik yang meliputi busana, tata rias, komposisi, dan kepenarian. Festival yang berhasil menjadi daya tarik masyarakat Lumajang saat itu melahirkan 39 etnik seni tari Jaran Slining. Pada penghujung acara sebelum diumumkan 3 penyaji terbaik, seluruh peserta tampil berparade dan menari bersama. Pentas budaya di Kawasan Wonorejo Terpadu menjadi lautan Jaran Slining. Parade All Performance diakhiri dengan foto bersama Bapak Bupati Lumajang dan Bapak Sekretaris Daerah.
          Festival ini digelar dengan harapan mampu menjadikan Jaran Slining sebagai tonggak budaya Kabupaten Lumajang. Berbagai usaha dilakukan agar kesenian khas Lumajang ini tidak mengalami kepunahan. Menyelamatkannya dari modernisasi dan menanamkan kecintaan generasi muda terhadap kesenian bangsanya adalah tugas wajib bagi seluruh masyarakat Lumajang. Sebab, kesenian khas negeri kita adalah aset bangsa yang tak ternilai harganya. Kekayaan akan budaya juga harus diimbangi dengan kecintaan bangsa terhadap budayanya sendiri. Jaran Slining adalah salah satu contoh aset bangsa yang patut untuk dijaga dan dilestarikan. Mengenal, mencintai, dan bangga terhadap kebudayaan nusantara merupakan salah satu balas budi terhadap Indonesia. Kita bangsa Indonesia, lahir di tanahnya, minum airnya, makan tumbuhannya cukuplah membalas budi dengan menyelamatkan budayanya dari kepunahan. Kenali dan cintai budaya bangsa kita agar tidak lapuk dan hanyut oleh modernisasi dunia. Salam Budaya!

Sebagai penutup seluruh peserta foto bersama Bapak Bupati Lumajang

Berikut ini beberapa foto peserta Festival Seni Tari Jaran Slining 2015

taken by @priskideanasti
taken by @priskideanasti


taken by @priskideanasti

 Sumber Informasi :
1.    Ibu Arias Purwantini
2.    Bapak Wahyu Dianto
3.    Bapak Antony S.Sn

4.    Festival Seni Tari Jaran Slining 2015

Senin, 27 April 2015

Kupersembahkan sajak-sajak berantakan.


1.Rindu itu berbentuk horizontal  menuju langit, memikul dan memperdaya tak kuasaan terhadap jarak yang sengit

2.Rindu mencumbui evolusi tentang cinta bertubi-tubi

3.Rindu ataukah ambisi yang memporak-porandakan jaringan dalam tubuh

4.Sebuah rindu kupastikan menyiksamu dalam sendu yang manja

5.Rindu berlabuh pada jarak dan sekat-sekat yang hangus

6.Rindu menjadi aus ketika kau dan aku larut dalam sebuah temu yang panjang

7.Kupersilahkan rindu mengacaukan sistem peredaran darah yang saling berkejaran

8.Rindu itu membiarkan aku mencumbui kenangan yang berbaris di trotoar

9.Kubunuh rindu dengan lintasan-lintasan tentang masa depan

10.Pasrah, kubiarkan rindu mencabik-cabik kesedihan

11.Kuijinkan rindu memungut kepiluan

12.Saksikan rinduku beranak pinak membentuk kehidupan dalam savana terang

13.Rindu mengistirahatkanku dari drama kehidupan

14.Rindu memasung dusta, memelihara kejujuran

15.Rindu yang polos mengantarkanku pada tepian jarak

16.Rinduku telah berlabuh pada sepasang bola mata yang teduh

17.Izinkan aku membunuhmu dengan rindu paling romantis

18.Menyediakan rindu dengan rasa paling sadis

19.Rindu yang anarkis

20.Kugenapkan rindu dalam peluk yang meraung-raung

21.Rindu rindu yang ganjil masih melukiskan pelangi dari balik bola matamu

22.Kau hidangkan rindu paling nikmat untuk kuseduh

23.Selamat merindu sepasang tapak kaki

24.Siluet rindu memenjaraku padamu

25.Rindu itu menciptakan jeruji besi paling mempesona

26.Rindu, rindu, rindu

27.Kusebut ia berkali-kali hingga jarak tak lagi berarti

28.Lalu, rindu mengubah arah menjadi vertikal

29.Menuju pelabuhan paling terang yang dipunyai Maha rindu

30.Berapa banyak lagi kukisahkan tentang rindu

31.Terus menghantui dalam hidup, hidup yang fana

32.Rindu ini jauh tapi mendekatkan

33.Rindu ini jahat tapi membahagiakan

34.Rindu, kugenggam mereka erat-erat

35.Rindu yang ganjil

36.Rindu yang genap

37.Rindu yang ganjil dan genap menghapus jarak, menenggalamkan sendu.