Rindu
adalah haribaan tentang kamu
kenangan kaku
memasung hingga ke hulu
kamu
ialah haribaan rindu
kenangan memasung semu
ilusi
harapan
penghabisan
perihal temu yang tak berwujud
maka
biarkan aku menerima kepastian
pasal haribaan kita
bersenandung
menerka masa depan
abu-abu
begitu
sebab kamu
tak disini
melukis puisiku.
Mengenai Saya
- Hereditas Rendezvous
- Segala sebab akibat perihal rindu. Selamat membaca! Semoga bermanfaat :) sosial media: ig : https://www.instagram.com/sasmithaarofa/ See you soon!
Senin, 28 November 2016
[ Hidup - Penghidupan - Kehidupan ]
[ KEHIDUPAN PERLU DIABADIKAN, PUISI ADALAH JALAN MENULIS KEHIDUPAN ]
Akhirnya menulis lagi setelah sekian lama tidak menulis.
Akhirnya kukunjungi kau lagi Ayana.
Selanjutnya akan kuberi kau puisi-puisi, tidak selamanya tentang aku. Coba kau artikan, siapa dan darimana segala puisi yang kutulis ini berasal. Ingat, Ayana ini tidak selamanya tentang aku. Selamat Membaca!
LENGAH
Sebab masih ada hal baik dari "aku baik-baik saja"
maka izinkan
Aku berbaik sangka
Pada burungnya sangka
Padamu.
Sudah
Sudah pula
Sudah lagi
Selalu sudah
Kulabuhkan itu
Padamu.
Jengah
Kamu paksa aku tak jengah
Rindu itu
Menyiksaku hingga jengah
Padamu.
Ku terbiasa
Padamu,
Sendiri,
Tanpamu.
Kota ramai,
hatiku sepi
tanpa kamu.
Akhirnya menulis lagi setelah sekian lama tidak menulis.
Akhirnya kukunjungi kau lagi Ayana.
Selanjutnya akan kuberi kau puisi-puisi, tidak selamanya tentang aku. Coba kau artikan, siapa dan darimana segala puisi yang kutulis ini berasal. Ingat, Ayana ini tidak selamanya tentang aku. Selamat Membaca!
LENGAH
Sebab masih ada hal baik dari "aku baik-baik saja"
maka izinkan
Aku berbaik sangka
Pada burungnya sangka
Padamu.
Sudah
Sudah pula
Sudah lagi
Selalu sudah
Kulabuhkan itu
Padamu.
Jengah
Kamu paksa aku tak jengah
Rindu itu
Menyiksaku hingga jengah
Padamu.
Ku terbiasa
Padamu,
Sendiri,
Tanpamu.
Kota ramai,
hatiku sepi
tanpa kamu.
Selasa, 06 September 2016
"Mengapa Politeknik Negeri Jember?" Tanya Mereka, Ay.
![]() |
| sumber : www.ibcworldnews.com |
Selamat Malam, Ayana! Hari ini adalah hari keduaku kuliah. Di jadwal, mata kuliah yang harus ku tempuh adalah psikologi. Kemarin aku menempuh mata kuliah Ilmu Komunikasi. Besok aku mulai menempuh segala hal yang berkaitan dengan gizi. Mulai dari ilmu gizi dasar, sosio antropologi gizi, anatomi dan patologi, sampai ilmu kesehatan masyarakat. Sejak aku mulai kuliah banyak yang bertanya "Mengapa memilih polije (politeknik negeri jember)?". Aku ingin menjelaskan banyak hal kepada mereka yang menanyakan hal serupa, Ayana. Tapi mungkin mereka tidak akan paham ataupun sedikit mengerti. Bahwa sebenarnya kampus ini juga tidak pernah terbayangkan dalam benakku, terbesit saja tidak. Maka kuceritakan padamu saja.
Saat awal masuk kelas 12, aku dan teman-temanku
mulai disibukkan dengan berbagai macam pilihan kuliah mulai dari universitas
dan akademi, tapi bukan politeknik. Aku sama sekali tidak mengenal politeknik.
Berbulan-bulan aku bimbang dan selalu berganti pilihan. Sampai menjelang
pendaftaran SNMPTN pilihanku masih belum terpaku. Sholat istikharoh terus
kulakukan supaya aku tak salah langkah dalam mengambil keputusan. Kemudian
Ayana, tiba suatu ketika aku ingin menjadi seorang Ahli Gizi. Mendekati pendaftaran snmptn, keinginan itu makin kuat
Ayana. Kita percepat ya ceritanya. Karena aku tidak lolos snmptn Ay, jadi aku
harus daftar sbmptn dong. Dan pilihanku masih tetap Ayana, di kampus impianku
Universitas Airlangga. Setelah tes sbmptn, aku diajak oleh beberapa teman untuk
mengikuti tes UMPN (Ujian Masuk Politeknik Negeri) semacam sbm untuk
politeknik. Nah, aku mulai mencari berbagai informasi mengenai politeknik. Dan
gizi klinik lah salah satu prodi yang sesuai dengan apa yang aku cita-citakan,
Ay.
Diluar dugaan, tes yang aku jalani
setengah hati ini bisa membawaku lolos dan diterima di prodi impianku. Nah,
ketika pengumuman sbmptn dan aku dinyatakan lolos di prodi Budidaya Perairan
Universitas Airlangga, aku dihadapkan pada sebuah kebimbangan (lagi) Ay.Aku
diterima di kampus impian tapi bukan jurusan impian, juga di jurusan impian
tapi bukan kampus impian. Menyedihkan lebih tepatnya membingungkan. Lagi-lagi
aku takut salah langkah Ay. Maka tidak ada pilihan lain kecuali memohon
petunjuk-Nya. Setiap hari aku selalu memohon petunjuk-Nya dan mencari informasi
tentang dua kampus ini, Ay. Menjelang hari terakhir registrasi ulang sbmptn aku
seperti diberi jalan dan petunjuk. Petunjuk berupa apa? Coba tebak! Petunjuknya
adalah aku tidak bisa melakukan daftar ulang sbmptn, hanya karena aku tidak
bisa menemukan lamannya. Aneh memang, tapi nyatanya memang begitu Ay. Maka tidak
ada pilihan lain, aku harus menjalani kuliah di Politeknik Negeri Jember dengan
jurusan impianku. Rasanya terlalu panjang jika harus kujelaskan ini kepada
mereka semua, Ay. Banyak yang
menyayangkan keputusanku karena melepas kampus impianku(Unair) disaat ribuan
orang ingin masuk ke sana, aku malah melepasnya. Mereka harus tahu, Ay. Aku tidak
melepaskannya begitu saja, Ay. Aku melepasnya setelah melewati perdebatan
panjang dengan hatiku, dengan Tuhanku.
Sekarang inilah yang harus aku tempuh,
Ay. Berjuang bersama rindu-rindu yang beku. Di sini, di tempat yang sama sekali
tak pernah ku impikan. Tapi takdir Allah memang selalu baik, Ay. Kita hanya
perlu berjuang dan bersabar, begitu kiranya pesan abiku. Kau tahu tidak, Ay? Bahwa
sesungguhnya berjuang bersama rindu itu menenangkan. Mengapa demikian? Sebab bagiku
segala hal yang menenangkan itu belum tentu rindu, tapi segala hal tentang
rindu sudah pasti menenangkan. Di sini segala hal harus kulakukan sendiri,
Ayana. Tidak ada orang tua juga tidak ada dia, dia yang menciptakan rindu-rindu
ini. Sebulan yang lalu sebelum kami berpisah untuk nantinya bertemu dengan
lebih bahagia, ia tanamkan rindu di sini. Aku rajin merawat rindu itu hingga
tumbuh lebat. Sesekali kupangkas dengan doa supaya tetap indah. Pohon rindu ini
menjadi tempat rindang dan sekali lagi menenangkan. Aku sendirian di sini,
bergelantungan bersama rindu itu Ay. Setiap hari. Tapi rupanya rindu yang ia
tanamkan itu mengajarkanku untuk tetap kuat meski aku sedang jatuh. Bahkan ketika
rasanya tidak ada lagi kekuatan untuk bangkit, pohon rindu itu berbuah kekuatan
yang kemudian membuat aku berdiri lagi. Sebab rupanya ia ingin ketika kami
bertemu lagi nanti aku berada dalam posisi terkuatku. Ia tanamkan rindunya di
sini supaya nantinya aku tetap tegak, berdiri, tersenyum, menopang segala hal
yang menjatuhkanku. Dia hebat, Ay. Telah dia siapkan semuanya, bahkan meskipun
dia tak di sini rindunya ia tanamkan supaya tetap dekat.
Begitulah Ayana kisah rinduku malam ini.
Sampai bertemu di kisah rindu yang lain. Semoga kau tidak bosan. Selamat merindu,
Ayana!
Minggu, 21 Agustus 2016
Ayana, itu Rindu!
Akhirnyaaaaa, bisa masuk blog lagi. Semoga siapapun yang sudi membaca ini dilimpahkan kebahagiaan dan hati yang lapang. Amiin! Oh iya, bagi yang sedang merindu semoga dikuatkan berjuang bersama rindunya dan segera dipertemukan dengan orang yang dirindu. Selamat membaca! maaf sudah menyita waktu kalian semua untuk membaca tulisan yang sedikit gak penting ini, hehe.
Hai Ayana,
sudah siap mendengar ceritaku hari ini?. Ayana,
kali ini entah hari keberapa aku berkabung rindu. Berenang-renang dengan indah
didalamnya. Entahlah Ayana, kisah tentang rindu itu tak pernah habis. Rindu
selalu saja punya sesuatu untuk hidup dan tetap menjadi rindu. Parahnya meski
kadang ia jahat menusuk ke relung hati, mencabik-cabik pikiran sebab
berkolaborasi dengan kenangan dan tingkah pola jahat lainnya yang menyiksa aku
tetap suka menceritakannya dan menjadi topik utama setiap aku denganmu. Kau
bosan tidak?
Hari ini aku masuk ke sebuah kehidupan baru. Kehidupan yang
sedikit berbeda dengan sebelumnya. Ada teman-teman baru, lingkungan baru,
tempat baru, juga kebiasaan merindu yang baru. Sebab rindu yang hadir juga
baru, Ayana. Meski rindu pada orang yang sama tapi macam rindu ini lebih kuat,
hebat, dan benar-benar jahat. Aku seperti sendirian kali ini Ayana. Di
sekitarku hiruk pikuk tapi rindu yang jahat itu menciptakan kesepian. Tentunya
sejak jauh-jauh hari sudah kusiapkan hatiku untuk suasana ini. Sudah kubuka
dengan lapang dan berbagai macam tempat di relung hati supaya rindu itu tetap
nyaman berada di dalamnya. Namun sebaik apapun aku menyiapkannya tetap saja aku
kalang kabut. Bingung cara mengatasinya. Berantakan, begitu!
Sudah lama ya rupanya aku tak mengunjungimu. Hampir setahun
aku tak bercerita padamu. Maafkan aku, Ayana. Bukan aku yang menyibukkan diri,
tapi keadaan yang membuatku sibuk. Sekarang aku sudah di kota yang berbeda,
Ayana. Kota yang sama sekali tak masuk dalam daftar cita-cita dan impianku.
Tapi, siapa yang tahu rencana-Nya? Kita hanya bisa berusaha tanpa mampu
menerka. Aku hanya percaya bahwa segala hal yang ditakdirkannya adalah yang
paling baik untukku.
Maaf ya kali ini kuganggu kau pagi sekali. Silahkan
lanjutkan aktivitasmu, Ayana. Nanti ku kunjungi kau lagi dengan setumpuk kisah
rindu yang baru. Selamat Pagi!
Rabu, 16 September 2015
Surat dan Metamorfosa Rindu (Mozaik 1)
Guten Abend! Sudah lama sekali tidak mengunjungi rumah kecil yang usang ini. Ulang tahun sekolah sedikit menyita waktu saya, hehe. Malam ini saya coba berkunjung lagi dan menemukan keadaan blog kecil ini tanpa perubahan apapun :)
Di tulisan kesekian yang (masih) kurang penting ini saya masih bercerita tentang rindu, masih tentang rindu dan selalu tentang rindu. Bagi saya rindu masih menjadi kata paling romantis. Rindu menyimpan kehangatan, kasih sayang dan do'a. Tulisan ini sukses diselesaikan pada saat, em, saya lupa kapan tulisan ini saya buat. Sudah terlalu lama rupanya. Baiklah selamat membaca, semoga merindu :)
Surat dan Metamorfosa Rindu
(Mozaik 1)
Hai Tong, apa
kabar? Kau masih hidup atau sudah pindah alam? Hidung kau berubah jadi pesek
kah? Kau masih suka jailin tukang sate yang lewat tengah malam di taman kota?
Tong, kau masih suka menjelma jadi monyet pencuri pisang di ladang sebelah
rumah? Ah, Tong aku masih dengan rindu yang sama sejak kau pergi. Pergi dari
aku, pergi dari kita Tong. Sejauh ini kau masih saja bisu. Sejak kau pergi, aku
jadi bodoh Tong. Hendak saja aku menampang fotomu dengan tulisan besar
“DICARI”. Aku masih berantakan Tong. Kau bilang akan menitipkan rindu pada
hujan. Haha kau jangan gila Tong, hujan saja tidak mampu membawa dirinya
bagaimana hendak membawa rindu?. Setiap kali hujan datang dan mampir di teras
rumah kita selalu kutanyakan adakah titipan rindu dari kekasihku, Tong? Mereka
acuh saja Tong, lalu untuk apa kau menitipkan rindu pada yang acuh? Kau juga
pernah bilang, senja bisa sekali membawakan rindu dalam jingganya. Sayangnya
senja tak mau bicara Tong, lalu sia-sia kau titipkan rindu pada kebisuan. Tong,
tolonglah berpikir panjang bila hendak menitipkan rindu. Jangan pergi seenak
kau mau. Aku ini hanya hidup denganmu, tiba-tiba saja aromamu tak pernah
menggelikan bulu hidungku. Tiba-tiba saja suaramu tak memenuhi gendang telingaku.
Semuanya serba tiba-tiba Tong. Aku belum siap, bahkan tak akan pernah siap
Tong. Sejak kau pergi aku miskin seketika, Tong. Bagaimana tidak? kamu kan
kekayaanku satu-satunya. Untungnya aku masih bisa hidup meskipun setiap hari
harus makan dengan rindu. Tong maumu itu apa? Menggeletakkan kebahagiaan yang
sudah kita bangun mati-matian. Jangan bodoh Tong, sekalipun aku biasa bekerja
keras mengangkat karung-karung beras di pasar tapi aku tak cukup kuat untuk
membangun kebahagiaan dengan sendiri begini. Tak lucu lah Tong, rumah bahagia
yang kita bangun itu baru separuh. Lalu kau biarkan saja begitu? Menganga,
menerima hujatan-hujatan luka akibat kau tinggalkan. Sudah separuh, hampir
roboh pula. Bangunan itu terlalu rapuh lah, Tong. Aku ini sudah miskin malah kau
buat makin miskin. Bosan Tong setiap hari makan nasi berlauk rindu, sekali-kali
lah kau pulang, mewarnai sarapanku hingga tak jadi sesunyi ini. Kau kemana,
Tong? Mulutmu itu kau museumkan kah? Pergi tak bilang-bilang, belum ada persiapanku
untuk kesepian begini. Tong, aku lelah
menangisi kesendirian ini saban hari. Remuklah aku, Tong, kau titipi kenangan
yang menyeret-nyeret langkahku untuk tetap tinggal di sini. Pulanglah Tong,
pintu rumah kita selalu menganga, siap menelanmu dengan berbagai rupa kerinduan
yang mahal. Bayar semua kesalahanmu Tong, cumbui rinduku. Jangan kau pasung aku
begini, hidup dalam ketidakpastian tanpa matamu dan sumpah serapahmu yang
romantis. Jangan sadis Tong, cepatlah pulang. Sebelum rumah kita usang, dan aku
tergeletak didalamnya lalu kukuburkan diriku sendiri dalam gundukan kenangan
yang kau ciptakan. Pulang Tong, Pulang!
Bersambung...
Rabu, 20 Mei 2015
JARAN SLINING TONGGAK BUDAYA KOTA PISANG DI KANCAH NUSANTARA
Bagaimana ya mengawali postingan ini? Em, begini saja kalau biasanya saya memposting puisi atau entahlah satu hal yang tidak penting yang mungkin hanya saya yang paham, kali ini saya akan memposting sesuatu hal tentang daerah kelahiran saya, Lumajang. Sedikit kebudayaan tentang Kota Pisang. Artikel ini saya buat saat mengikuti salah satu lomba menulis artikel. Selamat Membaca! Semoga Bermanfaat!
Kebudayaan
di Kabupaten Lumajang dikenal dengan nama “Pendalungan” yang berasal dari kata
“danglung”. Kebudayaan ini lahir dari akulturasi budaya Jawa dan Madura yang
menghasilkan corak budaya khas Lumajang dengan unsur budaya Jawa dan Madura yang
masih melekat di dalamnya. Dalam budaya pendalungan
muncul etnik budaya yang didominasi oleh alat musik danglung yaitu sebuah kentongan dari
kayu nangka. Pendalungan juga
melahirkan lima seni tari khas yang tetap lestari di tengah hiruk pikuk
modernisasi masyarakat, yaitu Jaran Kencak, Godril Lumajangan, Jaran Slining,
Gelipang Rodat, dan Topeng Kaliwungu. Selain terkenal dengan Kota
Pisang, Lumajang juga terkenal dengan kesenian Jarannya. Jaran atau kuda ini
menjadi ikon Kabupaten Lumajang pada saat peringatan Harjalu (Hari Jadi
Lumajang) ataupun kegiatan kesenian lainnya. Salah satu kesenian yang unik dan
menarik dari Kota Pisang ini adalah Jaran Slining. Seni tari dengan ritme musik
yang cepat ini seringkali menjadi hiburan pada acara hajatan di berbagai
kalangan masyarakat.
Namun,
modernisasi yang menderas di Indonesia tidak terkecuali di Kabupaten Lumajang
menciptakan kekhawatiran beberapa kelompok masyarakat Lumajang. Budaya barat
yang hadir berurutan melunturkan kecintaan generasi muda
terhadap budaya dan kesenian daerahnya, termasuk kesenian Jaran Slining. Untuk
menyelamatkan dan melestarikan seni tari khas Lumajang ini maka dilaksanakanlah
Festival Seni Tari Jaran Slining 2015. Diprakarsai oleh Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Kabupaten Lumajang festival ini digelar pada hari Minggu, 15 Maret
2015. Bertempat di Pentas Budaya Kawasan Wonorejo Terpadu, festival ini
berhasil menarik minat masyarakat Lumajang terhadap Jaran Slining. Acara
dimulai pukul 13.00 dan diawali oleh penampilan dari CIO Indonesian Arts Culture yang membawakan Tari Meruang Waktu.
Kemudian disusul dengan lagu Lumajang Sayang yang dinyanyikan oleh Paguyuban
Duta Wisata Cak dan Yuk Kabupaten Lumajang. Pra Acara ditutup dengan Tari Remo
oleh perwakilah STKW Surabaya (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya).
Memasuki acara inti, Sanggar Diamond Arts
Perform berkesempatan untuk membuka acara dengan tariannya. Festival yang
dibuka secara resmi oleh Bapak Bupati Lumajang ini
diikuti oleh 39 peserta dari berbagai sanggar di Kota Pisang. Ditandai dengan
pemukulan gong festival dimulai, bergantian sesuai dengan nomor urut seluruh
peserta menari mengikuti irama musik yang rancak. Meski hujan deras turun
selama pelaksanaan festival tidak menyurutkan semangat para peserta untuk
menampilkan yang terbaik.
Peserta
dibagi menjadi dua kategori, yaitu kategori anak-anak dan kategori remaja. Setiap
peserta menampilkan tarian dengan gerakan, pakaian, dan kuda yang berbeda. Festival
ini bermula dari adanya ide salah satu sanggar sebagai usaha melindungi Jaran
Slining dari kepunahan. Gayung bersambut dan ide itu direalisasikan oleh Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata. Menggandeng CIO Arts
Culture Indonesia, festival
seni tari ini berhasil digelar dengan semarak dan meriah. Dihadirkan 5 seniman
sebagai dewan pengamat untuk memilih 3 penyaji terbaik non rangking dari setiap
kategori. Bapak Wahyu Dianto selaku dewan pengamat I menuturkan bahwa kriteria
penilaian dalam festival ini dilihat dari dua segi. Pertama dari segi performance yang meliputi penyajian dan
kreativitas, kedua dari segi artistik yang meliputi busana,
tata rias, komposisi, dan kepenarian. Festival yang
berhasil menjadi daya tarik masyarakat Lumajang saat itu melahirkan 39 etnik seni tari Jaran Slining. Pada penghujung acara sebelum
diumumkan 3 penyaji terbaik, seluruh peserta tampil berparade dan menari
bersama. Pentas budaya di Kawasan Wonorejo Terpadu menjadi lautan Jaran
Slining. Parade All Performance
diakhiri dengan foto bersama Bapak Bupati Lumajang dan Bapak Sekretaris Daerah.
| Saya ada diantara puluhan peserta Lomba Menulis Artikel Jaran Slining 2015 dan Duta Wisata Cak dan Yuk Lumajang 2015. |
JARAN SLINING TONGGAK
BUDAYA KOTA PISANG DI KANCAH NUSANTARA
Indonesia
adalah negara kepulauan yang dikenal dengan keragaman budayanya. Masyarakat di
negeri ini hidup berdampingan dan memeluk erat adat istiadat yang lahir dari
nenek moyang bangsa Indonesia. Keragaman budaya itu tetap dijaga dan
dilestarikan oleh seluruh lapisan masyarakat. Setiap daerah di nusantara
memiliki ciri khas dan corak kebudayaan yang berbeda dengan daerah lainnya.
Perbedaan ini menciptakan akulturasi budaya yang menambah ragam budaya baru. Meski
hidup di tengah keragaman budaya yang unik dan menarik, masyarakat Indonesia
mampu mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsanya dibawah naungan semboyan
“Bhineka Tunggal Ika” yang artinya, berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Kebudayaan ini terus berkembang dan tetap lestari tidak tergerus globalisasi.
Filosofi-filosofi dalam setiap budaya masih dipercaya oleh masyarakat, keaslian
budaya baik dalam musik, tari, atau adat istiadat selalu dijaga. Kebanggan
terhadap budaya negeri sendiri masih bersarang pada diri masyarakat Indonesia.
Meski modernisasi mulai menyelimuti negara kita, beberapa masyarakat tetap
menjaga dan melestarikan budayanya agar
tidak menjadi punah dimakan zaman. Ragam budaya di setiap daerah memiliki
sejarah, ciri khas, keunikan dan filosofi masing-masing sesuai daerahnya,
termasuk budaya di Kabupaten Lumajang.
Aset
Lumajang yang merupakan turunan dari Jaran Kencak ini memiliki irama rancak
tanpa gerakan pakem. Lahir dari masyarakat bawah, Jaran Slining menjadi hiburan
yang digemari masyarakat pada masa itu. Para petani menggunakan anyaman dari
bambu untuk membuat jaran atau kuda. Satu orang menunggangi kuda dan satu orang
pengencak dengan membawa pecut atau sapu lidi adalah sepasang penari dalam
Jaran Slining. Keduanya menari mengikuti irama musik seronen. Musik yang
terdiri dari alat musik gong, gendang dan danglung
ini mengalun mengiringi sepasang penari yang mengembangkan gerak tari secara
bebas atau sesuai kreativitasnya. Gerakan
dalam tarian ini merupakan apresiasi dari manusia yang menunggangi kuda karena
dahulu kuda menjadi alat transportasi utama dan menunggang kuda adalah olahraga
yang digemari masyarakat. Pengencak menggunakan topi (kopyah) yang agak tinggi,
namun seiring berkembangnya kreativitas seni, kopyah
pada pengencak diganti dengan aksesoris kepala berbentuk setengah lingkaran
dengan warna yang beragam atau aksesoris lainnya yang menambah kesan ceria pada
pengencak. Jaran Slining menjadi semakin semarak dan menarik dengan pakaian
para penari yang didominasi oleh warna merah, hijau, kuning, dan warna-warna mencolok lainnya. Warna-warna ini
sesuai dengan budaya masyarakat Madura yang cenderung pada warna mencolok.
Melambangkan keberanian, kelembutan, dan keceriaan warna pakaian dalam Jaran
Slining dipilih karena sesuai dengan tujuan tarian ini. Dibalut berbagai
aksesoris baik pada jaran atau penunggang, Jaran Slining menjadi hiburan yang
menyenangkan. Kesenian yang dahulu hanya menghibur masyarakat petani kemudian
berkembang dan lestari di tengah lapisan masyarakat Lumajang.
| Pembukaan Festival Seni Tari Jaran Slining 2015, ditandai dengan pemukulan gong oleh Bupati Lumajang, Bapak As'ad Malik. |
| Parade seluruh peserta |
Festival ini digelar dengan
harapan mampu menjadikan Jaran Slining sebagai tonggak budaya Kabupaten Lumajang.
Berbagai usaha dilakukan agar kesenian khas Lumajang ini tidak mengalami kepunahan. Menyelamatkannya dari modernisasi dan
menanamkan kecintaan generasi muda terhadap kesenian bangsanya adalah tugas
wajib bagi seluruh masyarakat Lumajang. Sebab, kesenian khas negeri kita adalah
aset bangsa yang tak ternilai harganya. Kekayaan akan budaya juga harus diimbangi
dengan kecintaan bangsa terhadap budayanya sendiri. Jaran Slining adalah salah
satu contoh aset bangsa yang patut untuk dijaga dan dilestarikan. Mengenal,
mencintai, dan bangga terhadap kebudayaan nusantara merupakan salah satu balas
budi terhadap Indonesia. Kita bangsa Indonesia, lahir di tanahnya, minum
airnya, makan tumbuhannya cukuplah membalas budi dengan menyelamatkan budayanya
dari kepunahan. Kenali dan cintai budaya bangsa kita agar tidak lapuk dan
hanyut oleh modernisasi dunia. Salam Budaya!
Berikut ini beberapa foto peserta Festival Seni Tari Jaran Slining 2015
| taken by @priskideanasti |
| taken by @priskideanasti |
| taken by @priskideanasti |
Sumber Informasi :
1. Ibu Arias Purwantini
2. Bapak Wahyu Dianto
3. Bapak Antony S.Sn
4. Festival Seni Tari Jaran Slining 2015
Senin, 27 April 2015
Kupersembahkan sajak-sajak berantakan.
1.Rindu itu berbentuk horizontal menuju langit, memikul dan memperdaya tak
kuasaan terhadap jarak yang sengit
2.Rindu mencumbui evolusi tentang cinta
bertubi-tubi
3.Rindu ataukah ambisi yang
memporak-porandakan jaringan dalam tubuh
4.Sebuah rindu kupastikan menyiksamu
dalam sendu yang manja
5.Rindu
berlabuh pada jarak dan sekat-sekat yang hangus
6.Rindu menjadi aus ketika kau dan aku
larut dalam sebuah temu yang panjang
7.Kupersilahkan rindu mengacaukan sistem
peredaran darah yang saling berkejaran
8.Rindu itu membiarkan aku mencumbui
kenangan yang berbaris di trotoar
9.Kubunuh rindu dengan lintasan-lintasan
tentang masa depan
10.Pasrah, kubiarkan rindu
mencabik-cabik kesedihan
11.Kuijinkan rindu memungut kepiluan
12.Saksikan rinduku beranak pinak
membentuk kehidupan dalam savana terang
13.Rindu mengistirahatkanku dari drama
kehidupan
14.Rindu memasung dusta, memelihara
kejujuran
15.Rindu yang polos mengantarkanku pada
tepian jarak
16.Rinduku telah berlabuh pada sepasang
bola mata yang teduh
17.Izinkan aku membunuhmu dengan rindu
paling romantis
18.Menyediakan
rindu dengan rasa paling sadis
19.Rindu yang anarkis
20.Kugenapkan rindu dalam peluk yang
meraung-raung
21.Rindu rindu yang ganjil masih
melukiskan pelangi dari balik bola matamu
22.Kau hidangkan rindu paling nikmat
untuk kuseduh
23.Selamat merindu sepasang tapak kaki
24.Siluet rindu memenjaraku padamu
25.Rindu itu menciptakan jeruji besi
paling mempesona
26.Rindu, rindu, rindu
27.Kusebut
ia berkali-kali hingga jarak tak lagi berarti
28.Lalu, rindu mengubah arah menjadi
vertikal
29.Menuju pelabuhan paling terang yang
dipunyai Maha rindu
30.Berapa banyak lagi kukisahkan tentang
rindu
31.Terus menghantui dalam hidup, hidup
yang fana
32.Rindu ini jauh tapi mendekatkan
33.Rindu
ini jahat tapi membahagiakan
34.Rindu, kugenggam mereka erat-erat
35.Rindu yang ganjil
36.Rindu yang genap
37.Rindu yang ganjil dan genap menghapus
jarak, menenggalamkan sendu.
Langganan:
Postingan (Atom)


