Mengenai Saya

Foto saya
Segala sebab akibat perihal rindu. Selamat membaca! Semoga bermanfaat :) sosial media: ig : https://www.instagram.com/sasmithaarofa/ See you soon!

Kamis, 25 September 2014

Sebuah Horison Kata

“Diamlah kalian, jangan rusuh. Sabarlah, sebentar lagi akan kukirimkan kalian kepada tuan itu! Jangan ganggu ritualku dengan senja!”
******
Di salah satu senja, jari-jariku menari, mencipta kata yang akhirnya akan kau tuai. Entah  malam nanti, esok pagi, saat kau hendak tidur, saat kau sedang makan, atau kapan saja sebahagia hatimu. Aku selalu yakin, barisan kata ini akan mengekor di belakang langkahmu yang tegap atau mungkin saja mendahuluimu. Aku tidak peduli apakah kata-kata yang berderet ini akan mengganggumu atau tidak, yang pasti aku hanya mengirimkan mereka ini untuk jadi kawanmu setiap waktu. Jika nanti mereka mengganggumu, jangan pernah menyalahkanku. Mereka, kata-kata ini yang jahat. Dia menyiksaku saat aku bercumbu dengan senja. Maaf, aku hanya bercumbu dengan senja, dia bukan orang lain. Aku hanya menaruh harapan pada senja, sekedar bercengkrama dengannya sembari mengulang cerita. Kadang senja menggambarkan sedikit tentangmu, ia menjelma matamu yang tenang. Hingga sekian waktu berselang senja berhasil menjelma dirimu, jadilah senja itu kamu. Maka, jangan marah jika suatu ketika kau menemukanku sedang bercumbu dengan senja, memeluk langitnya yang kemerah-merahan, atau menggenggam erat matahari yang memancarkan cahaya keemasan. Senja itu bukan orang lain. Sekali lagi kutegaskan, senja bukan orang lain. Dan tentang kata-kata yang jahat itu, dia menggedor-gedor pintu hatiku. Memaksa otakku untuk memberi perintah pada jari-jariku yang telah kelu. Mereka mengganggu islahku dengan senja. Aku benci saat-saat itu. Saat langit semakin merah menyaga, mereka semakin kuat melakukan perlawanan kepada hati, otak, darah, otot, tulang dan seluruh elemen pada tubuhku. Mereka semakin memaksaku untuk dikirimkan kepadamu. “Aku ingin bertemu tuanku!” mereka berteriak-teriak tanpa ampun. Aku bisa apa? Tak ada kekuatan untuk menahan mereka yang berbondong-bondong. Semakin lama, kurasa semakin banyak. Ada kemungkinan dalam waktu beberapa menit itu mereka beranak pinak. Ketahuilah, aku benci masa serupa ini. Maka dengan kekuatan yang tersisa, kubiarkan jari-jariku menari mengirimkan mereka padamu.
Aku hanya takut mereka akan terus menghantuimu, mengekor di belakang langkahmu, seperti anakan sungai yang mengalir ke muara. Tentunya, aku akan merasa bersalah telah mengirimkan si kata-kata usil ini padamu. Mereka merengek-rengek seperti balita merindukan balon dan permen. Aku bisa apa? Tidak pernah kuasa kulihat mereka memelas. Semakin iba aku dibuatnya. Maka di senja ini ku kirimkan mereka kepadamu.
Mereka memang hanya sekedar kata-kata yang bahkan mungkin banyak manusia memandangnya sebelah mata. Tapi mereka jauh dari kata biasa, jika mereka sudah sampai padamu nanti, akan kau temukan cinta yang mengikat di dalamnya. Mengakar di setiap huruf dan akan terus memanjangkan akarnya. Lalu cintanya itu akan rimbun, lebih indah lagi mereka telah berbuah rindu. Dan kau tahu, cinta itu terus rimbun, buahnya akan semakin berlipat dan selalu berlipat. Maka itulah alasan mengapa mereka memaksaku untuk dikirimkan padamu. Akarnya sudah terlalu panjang, pohon cintanya sudah sangat rimbun, dan buahnya sudah tak terhitung lagi. Buah itu harus segera di panen oleh tuannya.
Deretan kata ini benar-benar menyiksa. Mereka bukan hanya mengganggu waktuku dengan senja, rindunya yang terus berbuah itu membuatnya semakin berat untuk kubawa. Bayangkan saja mereka mengakar cinta dengan sangat panjang, lalu tumbuh tinggi dan rimbun, masih berbuah rindu yang lezat. Itu terlalu berat untuk ukuran wanita sepertiku. Mereka benar-benar merepotkan. Berkali-kali kubilang untuk tinggal saja dengan tenang di dalam tubuhku dan jangan berbuah. Tapi mereka terlalu keras kepala. Aku tidak habis pikir, darimana mereka mendapat air dan cahaya untuk tumbuh dan berbuah, alasan mereka tak pernah masuk akal “Mata tuanku adalah telaga yang tenang, dan cintanya ialah kekuatan untuk berbuah, lalu senyumnya menyiratkan cahaya yang selalu kami ikat dengan klorofil di tiap-tiap daun kami” kata mereka dengan tanpa rasa bersalah. Barangkali tidak bertemu denganmu adalah cara untuk membuat mereka tak tumbuh lagi. Tapi kau harus tahu, mereka benar-benar jahat. Rombongan kata-kata ini tak pernah kehabisan cara untuk mendapatkan sumber cahaya dan airnya. Hinggga pada akhirnya selalu saja mereka berhasil menyeret langkahku ke hadapanmu. Mereka selalu tahu dimana tuannya berada, atau barangkali kau juga yang licik. Mungkin kau juga yang menyuruh mereka untuk menyiksaku dengan buah-buah rindunya.
Kutengok senja semakin sendu, aku harus kembali padanya dengan cepat. Sebelum buah-buah rindu mereka semakin berlipat, kukirimkan saja padamu. Kuingatkan lagi, jangan salahkan aku jika mereka nanti menghantuimu, atau hidup dibalik derap langkahmu. Jika kau hendak menyimpannya dalam tubuhmu, silahkan saja. Di sisa senja ini, kuserahkan mereka pada tuannya. Setelah ini, akan tumbuh lagi kata-kata dalam tubuhku. Dan aku akan mengajari si kata baru itu agar lebih beretika. Supaya mereka mengakar, tumbuh dan berbuah rindu dengan bijaksana. Nantinya, kata-kata baru itu akan menjadi si kata baru yang sopan. Tidak akan ricuh berebut air di telaga matamu yang tenang, atau membuat sayembara  untuk memenangkan cahaya senyummu. Kata-kata baru itu tidak akan seperti itu lagi. Aku janji, jika nanti akhirnya si kata baru itu sudah berbuah rindu dan saatnya untuk kukirimkan padamu, mereka akan sampai dengan tenang tanpa kericuhan.
Sebentar lagi kata-kata dengan buah rindu yang terlampau banyak ini akan sampai padamu. Tertatih aku membawanya, mereka terlalu berat. Masih sama seperti rombongan kata yang sebelumnya. Mereka hidup dan tumbuh dengan kejujuran tanpa majas apapun. Kamu, si tuan kata-kata, jangan licik lagi ya. Sudah cukup bersekutu dengan mereka untuk menyiksaku dengan buah rindu yang berlimpah dan teramat berat. Mungkin mereka akan sampai saat senja telah kembali ke peraduannya. Saat langit gelap sempurna. Sekarang sudah saatnya aku menikmati sisa senja yang beradu ini. Masih tersisa gemetar di dalam tubuhku setelah mengantarkan mereka pada tuannya. Bayangkan saja, aku membawa mereka yang rimbun dan berat itu dengan tanganku sendiri. Kuikatkan akar-akar mereka yang teramat panjang di tubuhku. Kata-kata berbuah rindu itu benar-benar jahat. Sebentar lagi mereka akan sampai pada tuannya. Dan si kata baru yang tumbuh dalam tubuhku akan beranak pinak dengan bijak. Selamat bertemu dengan rombongan kata berbuah rindu itu. Selamat senja, tuan kata dengan mata yg dibanjiri telaga ketenangan. Semoga siluet kasih dari bola matamu terus memancar dan sampai pada kata berbuah rindu yang tumbuh dalam tubuhku.



Sabtu, 13 September 2014

Biar Saja Postingan Ini Tidak Menemukan Judulnya

Sudah lama tidak berkunjung ke rumah kecil ini. Ketika saya masuk, ada banyak sarang laba-laba disini. Entah berapa lama saya tidak meninggalkan catatan di rumah kecil ini. Saya sedikit sibuk dengan kebahagiaan baru. Ada dunia baru yang harus saya nikmati. Dunia yang saya temukan di sepasang mata yang tenang. Sebuah dunia, tentang derai tawa dan kesetiaan. Tentang dunia pelangi yang datang selepas hujan dan badai memporak-porandakan hati saya. Saya sadari, banyak penguat di sekeliling saya. Penguat yang hadir bukan dari ke-semu-an.

Setelah sekian waktu terlewat dan semua cobaan mendera, saat saya mencoba terus melapangkan hati, setelah itu semua, bahagia benar-benar datang dari arah yang tidak saya duga. Benar memang tidak mudah menghapus luka yang sudah terlanjur menjadi duri diantara sutra,  butuh waktu. Iya, kita hanya perlu menyesuaikan semuanya. Perlu menguatkan hati untuk keadaan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Tapi tak baik pula meratapinya berkepanjangan. Banyak hal yang bisa kita lakukan daripada sekedar menengok ke belakang dan menyesali semuanya. Biarlah yang berlalu itu cukup menjadi pelajaran berharga bagi hidup kita. Pelajaran yang mungkin dalam kurikulum 2013 pun tak kita temukan. Pelajaran yang tersirat. Pelajaran yang menghadirkan luka untuk setelahnya memberikan ketegaran bagi hati kita. 

Membuka mata dan menyadari bahwa masih banyak yang peduli adalah pantas kita lakukan. Jangan pernah merasa sendiri. Karena memang faktanya kita tak pernah sendiri. Jika ada yang pergi, maka percayalah akan ada yang datang dengan harapan baru. Jangan takut sakit hati, karena ya begitulah hidup. Suka selalu berdampingan dengan duka. Mereka teman setia. Hadir bergantian dalam hidup kita. 

Setelah kisah cuklek yang saya rasakan, ada bara kebencian yang tak kunjung padam. Tapi harus saya kikis perlahan. Karena sekuat apapun saya membenci tidak akan pernah berpengaruh baik bagi hidup saya. Maka melapangkan dada dan menjalani kehidupan baru yang jauh berbeda dari sebelumnya adalah sebuah jalan yang harus saya tempuh. Dan hasilnya tidak pernah saya duga, ada kebahagiaan yang datang dari arah tersembunyi. Menyusup masuk kedalam hidup saya, dengan lembut mencipta tawa, dan menjadikan hari-hari saya lebih baik dari sebelumnya. Ada semangat tercipta dari mereka yang peduli, dari mereka yang tersenyum serta tertawa. Semua bahagia itu membaur, perlahan menutup luka. 

Ada kehidupan baru yang harus saya jalani disini. Ada senyum dan tawa yang harus tetap memancar setiap hari. Mengusir elegi-elegi. Tak ada satire. Tak ada benci, dendam, iri, dengki. Memang awalnya tak akan mudah. Kita hanya perlu menerima kenyataan dengan lapang. Menjalaninya dengan sadar. Percaya saja gaes akan ada pelangi selepas hujan. Biarkan masa lalumu membuatmu selalu berkaca. Hidup itu jalan kedepan gaes. Ada suka disana, ada bahagia diujung sana. Percayalah.


Kamis, 10 Juli 2014

Bahagia itu Lapang

Saya mencoba berpikir lapang. Mengikhlaskan bahwa apa yang Allah rencanakan memang yang terbaik. Ketika dia pergi dengan seribu kebisuan, tanpa pesan dan alasan hingga belakangan ini saya ketahui dia kembali bersama kebahagiaan masa lalunya, saya hanya bisa mengucap hamdalah berkali-kali. Iya alhamdulillah, kepergiannya membuat saya sadar dan tahu siapa yang pantas dipertahankan. Alhamdulillah, Allah telah membelalakkan mata saya bahwa sebenarnya dia memang tidak dipantaskan bersanding dengan saya. Dia bukan untuk saya. Ikhlaskan saja. Semua yang telah terjadi beberapa bulan terakhir dan semua kebodohan belakangan ini, memberikan saya banyak pelajaran tentang kehidupan. Intinya yaa, jangan jatuh ke lubang yang sama. 

Nah, setelah pelajaran berharga itu, setelah dia menjadi kenangan. Ada sosok yang kembali muncul perlahan. Saya sadar, secuil kenangan itu tidak benar-benar hilang dari ingatan saya. Kenangan kecil itu hanya terdesak di dalam sudut otak saya, kemudian setelah otak saya kembali lapang kenangan itu hadir mengingatkan dan menyadarkan bahwa kenangan kecil itulah yang pantas saya pertahankan. 

Gaes, lagi-lagi saya harus bilang. Semua yang sudah berlalu ikhlaskan saja. Kebahagiaan itu ga sempit. Jika dia pergi, sadar saja dia bukan yang terbaik untukmu. Karena yang terbaik tidak akan pergi gaes. Karena yang terbaik itu yang telah Allah tetapkan untukmu. Ketika saatnya tepat, yang terbaik akan menemui kita. Sekali lagi, untuk mengakhiri postingan ga penting saya ini. Bahagia itu lapang gaes!

Jumat, 04 Juli 2014

Pada Jumat Malam yang Panjang, Rindu itu Tercipta!

Rindu yang menembus lapis-lapis langit itu, membelah biru pada kelam senja lampau tak pernah sunyi meski hasrat mati—membeku.

Rindu yang terjepit diantara adzan dan iqomah itu telah membaui basah sajadah berkawan sayup dengkur tetangga dibalik selimut yang ditarik menutup dada.

Rindu sembunyi dibalik batu, seirama dengan riak hujan fajar terakhir, menyusup diantara desah nafas pengais rezeki, membahana ditengah tawa budak alas kaki lusuh. Yang dengannya itu ditaruhlah semangkuk harapan, untuk tak lekang menyerap sajak.

Rindu menciptakan samudera pengharapan, untuk jarak yang membunuh kilau kerendahan. Megahnya rindu menyerupai istana sultan dahulu.

Aku ingin mencintaiMu dengan benar, seperti jawaban di soal ulangan sejarah. Tapi manusia tak ubahnya guru-guru yang enggan menyertakan angka 10 dalam garis hitam raport seniku.

Akan kucoba merengkuhMu dengan benar-benar, seperti usahaku menghapus angka enam di ujung kertas kimia yang tak tega untuk kuhadirkan di pelupuk mata.

Kesepuluh jemari mungilku berjuang memelukMu dengan benar lewat kalam yang didengungkan dalam kegelapan yang panjang, menyerupai tundukan bulan pada bintang.

Rindulah aku....
Mengecup bibir diujung dzikir “lailahaillallah”
Bercinta dengan tatap yang berlinang “Astaghfirullah”
Aku beku—nanar—melepuh—horisonMu tak kuasa kusentuh 

Dan kesemuanya itulah mengantarkan kedua tangan untuk tetap menengadah, diulurkan-Nya sebuah jembatan memanjang dari seutas tali kebekuan yang dibawahnya mengalir coklat dahaga. Kepada-Nya lah semua rindu bermuara.

Kupeluk langit, sebelum fajar beranjak menyekap hitam. Pada langit yang sama, Adam dan Hawa dipertemukan, jumat—berjuta tahun silam.


Rindu mengotori jalanku padaMu, maafkan aku....

Minggu, 29 Juni 2014

Berhentilah "Cuklek" Berkepanjangan

Cuklek, satu kata bahasa jawa yang berarti patah. Dewasa ini saya sering mendengarnya, merujuk pada hati yang patah karena suatu hal. Menurut pemahaman saya cuklek jauh lebih parah dari sekedar pecah berkeping-keping. Banyak sekali, teman wanita yang berkisah kepada saya mengenai cukleknya hati dengan faktor yang berbeda, hingga pada akhirnya saya tahu bagaimana cuklek yang mereka rasakan (Jangan kira saya sedang curhat ya gaes). Sakit? Sudah jelas. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Menangisinya berlarut-larut? Sekedar membuat lega tapi tidak akan menyembuhkan hati yang luka. Cuklek berkepanjangan juga tidak baik gaes. La tahzan, Innallaha Ma’ana. Jangan bersedih karena sesungguhnya Allah bersama kita.

Salah satu kisah cuklek yang hadir di depan mata saya adalah ketika air mata sepupu saya (si A) mengalir dengan mudahnya beriringan dengan hati yang cuklek sebab lelakinya sudah dengan jelas bermain cinta dengan wanita lain. Tapi itu tidak berlangsung lama, karna si paijo sebut saja begitu, laki-laki yang sudah menyakiti hati sepupu saya itu berhasil meyakinkan wanitanya kembali setelah melalui perdebatan panjang yang secara tidak sengaja saya saksikan. Itu pertengkaran pertama yang membuat saya membenci lelaki. Setelah itu hubungan mereka kembali biasa saja, tertawa dan bercanda. Hingga pada kali ketiga sepupu saya masih saja tetap bertahan, selama setahun itu juga saya menyaksikan bagaimana air mata mengalir dengan percuma bagai sungai yang tak menemukan telaga. Saat itu saya masih 14 tahun, dan tak pernah paham dengan apa yang mereka bicarakan.

Kisah cuklek lain adalah ketika sepupu saya (si B) yang hubungannya putus-nyambung-putus-nyambung tak berujung tapi masih bertahan sampai sekarang. Saya selalu saja siap jadi pundak saat air mata mereka tumpah ruah. Saya hanya bisa bilang, ya sabarlah kisah cuklekmu itu juga mampu membuatmu lebih bahagia kelak. Saat itu saya belum pernah merasakan bagaimana cuklek yang mereka rasakan. Ya, hingga pada akhirnya saya tahu seberapa sakit hati yang cuklek dan mudahnya mengalirkan air mata untuk seseorang yang sebenarnya sia-sia dilakukan. Saya juga tahu apa alasan mereka bertahan meski luka yang mendera tak kunjung sirna, satu hal saja karena pergi dan melupakan juga serasa mematikan.

Cuklek saya, adalah ketika tahu seseorang yang saya pertahankan pergi dengan pesan yang mematikan “saya tidak lagi mencinta” itu kalimatnya, kalau pendengaran saya sedang baik-baik saja. Ketika saya tanya alasannya kenapa dulu mencinta, seseorang itu mengatakan hal yang lagi-lagi mematikan “Iseng saja” saya hanya bisa ber-oh panjang sembari mendengar retakan-retakan hati yang kemudian pecah. Saya hanya tidak memahami bagaimana bisa semua kenyamanan yang seseorang itu berikan hanyalah sandiwara belaka. Saya serasa sedang bermain sinetron dan dia jadi pemain utamanya. Sampai saat ini saya masih tidak bisa percaya, yakin saja dibalik “saya tidak lagi mencinta” tersimpan rahasia besar yang entah kapan akan terungkap. Saya juga yakin kata “Iseng saja” adalah kebohongan sebenarnya yang dia lakukan. Jadi intinya, dia sedang membohongi hatinya dengan mencipta statement bahwa dia sedang mematahkan kenyamanan diantara kita. Dilema awalnya, antara dia yang terlalu jahat atau saya yang terlalu buta. Tapi gaes, sekali lagi saya tekankan senyumin aja si kenangan. Iya, kenangan bakalan jadi satu hal yang mau tidak mau akan hidup bersama kita. Iya kan gaes?

Gaes, 3 kisah cuklek diatas hanya sebagian kecil saja dari rupa-rupa kisah yang saya dengar, lihat dan rasakan. Dan dari semua kerapuhan itu, wanita selalu punya cara untuk tetap bangkit. Kalau kalian wanita yang tegar, berhentilah menjalani cuklek yang berkepanjangan gaes. Cuklek-bangkit-hidup kedepan jauh lebih nikmat rasanya daripada hanya sekedar bangkit-cuklek-menangis seharian. Bersemangatlah gaes, karena apa yang kita rasakan nanti akan lebih merapuhkan, kecuali jika kita masih punya pegangan-Allah, yang selalu menguatkan hati. Mengutip kalimat dari ustad Felix Siauw-seorang mu'allaf yang sekarang menjadi pendakwah : Bencilah seadanya dan cintailah seadanya, manusia bisa dan cepat berubah | dan saat itu terjadi jangan sampai kita yg sakit hati, rugi. Ya gaes, jangan sampai kita rugi.


Semua masa lalu kita memberikan kita pelajaran berharga yang tak didapat di sekolah. Banyak yang lebih berguna dari apa yang mereka sebut cinta masa muda. Kita masih bisa berjaya gaes, dengan prestasi yang kita punya. Biarlah semua luka jadi cerita yang memenuhi warna-warni kehidupan kita. Karena sesungguhnya hidup itu bukan sekedar tentang bahagia. La tahzan gaes, semua yang pergi dan menyakiti, cepat atau lambat akan terganti. 

Tentang Pacar Saya

Saya lagi ga pingin nge post puisi. Jadi kali ini satu postingan yang kayaknya juga ga penting, bakalan banyak kalian temuin nama senja disini. Senja itu siapa sih? Senja itu apa? Senja itu gimana? Saya hanya punya satu kata tentang senja : Indah, setia dan kenangan. Eh itu tiga kata ya? Ya pokoknya begitulah. Kita kupas satu-satu ya..

Indah, iya saya jatuh cinta pada senja karena keindahannya. Langit memerah saga dibalut angin sepoi mempesona dipadu buaian ilalang juga kepak burung yang pulang ke sangkar, ditambah lagi riuh ayam kembali ke peraduan. Pacaran saya dengan senja tiap fasenya berbeda, saat masih TK cara saya bercumbu dengan senja adalah dengan duduk di teras rumah dan membaca majalah kesayangan anak-anak “Bobo”. Gara-gara sering baca majalah itu saya terobsesi untuk merawat kelinci, meski pada akhirnya hanya bisa merawat ayam. Sejak jadi anak SD pacaran saya dengan senja selalu berganti tiap harinya, kadang dengan bersepeda bersama senja, bermain tanah, mengecap gulali, menikmati es krim, senja paling terkenang saat SD adalah... Em... senja yang paling mengesankan saat SD adalah, saat senja dihabiskan dengan mencuri mangga di rumah tetangga. Eh bukan, bukan itu yang saya maksud senja yang paling berkesan saat saya masih SD ialah... Ah, sudahlah saya lupa dengan masa merah putih itu. Selama SMP senja yang saya lewati beriringan dengan perjalanan pulang kerumah. Setiap harinya pulang diatas pukul empat sore membuat saya harus bercumbu dengan senja dalam perjalanan. Dan senja tetap saja menawan dalam pesonanya. Masuk SMA saya melewati senja dengan berbagai hal yang tak bisa dilupa. Mengejar senja, jadi aktivitas rutin saya ditengah kesibukan yang mendera (meskipun kenyataannya saya ga punya kesibukan). Jadi orang aneh ketika duduk di taman kota dengan memejamkan mata menikmati indahnya senja juga pernah. Menyeret perhatian pengguna jalan dengan mematung dibius senja yang memerah saga di depan rumah juga jadi cerita saya. Iya, senja membuat saya jatuh cinta. Pesonanya, menjadikan saya sebagai manusia diluar kebiasaan.

Setia, senja tidak pernah pergi. Ia hadir di sore yang tepat waktunya. Kadang awan dan hujan merebut jingganya tapi senja bagi saya tetap mempesona dalam keadaan seburuk apapun. Namanya juga jatuh cinta, bagus jeleknya tetap saja membuat saya mematung dan membisu. Iya senja setia, tak banyak janji dan tak pernah pergi. Senja itu pendiam yang sarat makna. Bercerita dengan senja adalah satu hal yang kebanyakan orang menyebutnya gila tapi bagi saya adalah kebahagiaan. Senja oh senja, kesetiaanmu kujadikan panutan.

Kenangan, melewati tahun-tahun bersama senja menjadikan senja sebagai salah satu kenangan terindah yang saya punya. Keindahan dan kesetiaan senja mencetak kenangan yang terus memenuhi hati dan pikiran saya. Senja adalah lukisan indah ke sekian dari tangan Tuhan. Senja mengajarkan saya banyak hal yang tak lagi bisa disebutkan. Senja, adalah tentang suka dan duka yang mengakar dalam kenangan. Senja adalah tentang tangis dan haru bahagia yang menyulut senyuman. Senja adalah tentang cinta, harapan dan ketenangan.


 Itu 3 foto senja yang gatau dimana dan siapa fotografernya. Meskipun saya sangat cinta pada senja tapi tak pernah menyimpan fotonya. Saya hanya suka mengabadikan senja di pelupuk mata saya. Senja indah kan ya? Setiap senja, saya selalu jatuh cinta padanya dengan jingga yang berbeda. Coba deh gaes nikmatin senja dengan segala kelapangan dada, kalau kalian punya masalah luapin ke senja, dia bakalan jadi pendengar setia.


Udah ya, ini puasa kan ya? Ga boleh gosipin senja. Oke gaes, saya beri satu lagi pesona senja yang memukau

Jingganya Senja

Sabtu, 28 Juni 2014

Tentang Cemburu dan Hati Yang Luka (Sok Melankolis)

Cinta, air mata yang kusembunyikan dibalik senyum dan berselimut sujud di malam-malam panjang adalah isyarat pada luka atas cintamu diam-diam yang menyelinap pergi..”. Sebuah kalimat yang saya kutip dari buku CHSI (Catatan Hati Seorang Istri) karangan bunda Asma Nadia. Buku yang sekarang diangkat ke layar kaca atau layar lebar mungkin ya? Ah, pokoknya yang sekarang lagi banyak dibicaraan ibu-ibu dan bapak-bapak itu menjadi buku bacaan saya saat kebingungan untuk masuk SMA. Tidak ada hubungannya memang kegalauan mengenai masuk sekolah baru dengan buku tentang kegalauan para istri itu. Tapi setidaknya buku itu cukup jadi penghibur dan melupakan masalah sejenak (walaupun tidak menyelesaikan) ketika harapan saya untuk menuntut ilmu diluar kota dipupuskan secara tegas oleh Abi. Alhasil terdamparlah saya sekarang di SMA N 1 Lumajang, dan menemukan kebahagiaan baru disana dengan orang-orang ramah yang semuanya baru. Banyak yang berpikir, salah mungkin ya ketika usia 15 tahun baca CHSI harusnya yang dibaca adalah CHSG (Catatan Hati Seorang Gadis) Yaudadeh ntar saya bikin buku judulnya CHSG, kalau bunda asmanadia ga nyolot “Eh yang kreatif dong nak”.

Saya baca buku itu ketika secara tidak sengaja menemukannya di meja belajar, sepupu saya yang sudah
17+ menjadikannya bacaan sehari-hari katanya untuk persiapan menjadi istri yang baik. Selang beberapa bulan kemudian saya tahu alasan si el (nama disamarkan) membeli buku itu hanya untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia, mengenai sinopsis novel. Sayangnya yang dia beli bukan novel. Iseng saja membaca covernya dan saya tertarik. Sehari tuntas membaca buku itu saya jadi tahu bahwa betapa beratnya menjadi seorang istri ketika harus hidup bertopeng tawa sedangkan hatinya luka tiada terkira. Dari buku itu saya tahu bagaimana menjadi wanita yang kuat berpedoman kesetiaan kepada lelaki, juga menjadi wanita yang tabah meski selingkuhan lelaki berganti-ganti. Disitulah saya belajar bahwa sebenarnya apa yang saya rasakan tidak ada bandingannya dengan apa yang akan saya hadapi beberapa tahun menjelang. Membaca buku itu membuat saya sedikit membenci lelaki. Sampai saat itu beberapa kalimat yang mengisahkan kejahatan lelaki saya garis bawahi lalu beri hastag tebal #Lanangcenngunu (Lelaki memang begitu). Tetapi pada akhirnya saya juga menyadari tidak semua lelaki begitu. Bahwa masih ada harapan untuk mendapatkan pendamping yang beriman menyayangi Istri karena Tuhan-Nya. Tidak semua lelaki seperti Bram, suami Hanna yang selingkuh dengan Karin hingga menghamili. Tapi banyak wanita sekuat Hanna yang rela berbagi nafkah dengan selingkuhan Bram karena bayi yang dikandung Karin. Yang baca bukunya atau mengikuti sinetron CHSI pasti tahu dan mendapatkan banyak pelajaran dari situ.


 *Itu pemain-pemain di sinetron CHSI, yang sekarang banyak jadi tontonan wajib bapak-bapak, emak-emak, engkong-engkong, nenek-nenek, cowok-cewek, pokoknya banyak deh yang lihat.

Sebelumnya saya juga membaca Catatan Hati yang Cemburu, setelah berkali-kali membaca dan mengaitkan dengan kehidupan nyata juga kisah-kisah teman wanita yang saya dengar, bahwa memang cemburu itu perlu dan akan hadir di setiap hati wanita. Dari tulisan-tulisan bunda asmanadia saya juga belajar menerima kenyataan bahwa kini saya hidup dalam kenangan juga kecemburuan yang masih mengakar. Bukan sok dewasa, tapi dari membaca itulah semua luka perlahan sirna berganti dengan kelapangan dada bahwa setiap fase kehidupan akan hadir sebuah goresan luka di hati wanita. Seperti Hanna, wanita itu mudah memaafkan tapi tidak akan pernah lupa dengan luka yang diukir lelakinya.


Jadi gaes, yang sedang diliput rasa cemburu, bersyukurlah supaya kau tahu betapa nikmat sakitnya cemburu. Atau cewek-cewek yang lagi ngerasa di php, cinta bertepuk sebelah tangan, cinta tak sampai, diduakan, dilupakan tanpa alasan dan kawan-kawannya, bersyukurlah pula setidaknya kau telah punya cara mengatasi luka yang akan kau rasakan kelak, beberapa tahun menjelang. Oke gaes, biar terpuruk tetap tersenyum, biar terluka tetaplah bahagia. Lihatlah ibumu tak pernah tersirat sedih di wajahnya meskipun kau ketahui atau tidak dia sedang menyimpan luka yang teramat berat rasanya. Semoga bermanfaat postingan saya yang lagi-lagi ga penting. Ingat ya gaes, senyumin aja si cemburu atau senyumin aja yang lagi selingkuh. Semua luka itu nantinya juga akan memberi bahagia yang luar biasa di masa depan kalian kelak.